Renungan

Semangat bagi Allah
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Yohanes 17:3
Yesus mendefinisikan hidup yang kekal di dalam Yohanes 17:3, ayat kunci kita hari ini. Oleh karena itu, walaupun hidup kekal senantiasa menyertai persekutuan dengan Kristus, konteks yang utama adalah kualitas dari relasi itu.
Tidak ada yang dapat menggantikan kerinduan pribadi untuk mengenal Yesus Kristus. Allah yang mencari dan menyelamatkan Anda dengan cemburu ingin menyatakan diri-Nya kepada Anda. Tetapi Anda juga harus mencari Dia.
“Segala sesuatu diciptakan untuk berpusat pada tindakan awal “menerima” Kristus (suatu istilah, insidentil, yang tidak dapat ditemukan di dalam Alkitab) dan setelah itu kita tidak diharapkan untuk mencari wahyu Allah yang berikutnya bagi jiwa kita,” tulis A.W. Tozer di dalam The Pursuit of God.
Kita telah terjebak dalam logika palsu yang bersikeras mengatakan bahwa jika kita menemukan Dia, kita tidak perlu lagi mencari Dia.
Saya ingin mendorong timbulnya kerinduan yang besar akan Allah. Kurangnya kerinduan itu telah membawa kita pada keadaan saat ini. Kakunya kehidupan religius kita merupakan akibat dari kurangnya hasrat kekudusan kita. Rasa puas diri adalah musuh dari semua pertumbuhan spiritual. Hasrat yang mendalam harus ada atau tidak akan ada manifestasi Kristus kepada umat-Nya.
Jika semangat Anda bagi Allah telah meredup, carilah Dia hari ini. Seperti yang dikatakan Tozer, “Ia menanti untuk diinginkan.”
Tuhan, jangan biarkan semangatku bagi-Mu memudar. Jangan biarkan rasa puas diri menghambat pertumbuhan spiritualku. Nyatakanlah diri-Mu hari ini dengan dimensi yang baru dan lebih mendalam.
Charles Stanley

Janji-janji yang Bersyarat
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yohanes 15:7
Janji-janji tertentu memiliki persyaratan. Seperti janji yang terdapat di dalam Yohanes 15:7 ini. Memang benar, kita boleh meminta apa pun yang kita inginkan, tetapi Yesus mengualifikasikan doa-doa kita dengan dua persyaratan penting. Yang pertama, kita harus memiliki persekutuan yang erat dengan Dia. Yang kedua, permintaan kita harus sesuai dengan kehendak-Nya.
Beberapa orang Kristen berpikir bahwa doa itu seperti sebuah lembaran cek yang masih kosong. Lalu menuliskan jumlahnya kapan pun Anda kehendaki, tidak peduli bagaimana kondisi rohani Anda, dan Allah akan mencairkan cek itu bagi Anda. Tidak demikian. Ketika Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku,” Dia sedang berbicara tentang sebuah gaya hidup yang memiliki hubungan erat dengan-Nya secara konstan, bukan gaya hidup dengan rohani yang tidak stabil.
Yesus tidak mengartikan kalimat “Jika Firman-Ku tinggal di dalam kamu” supaya Anda masuk sekolah Alkitab untuk mendapatkan diploma. Anda dapat saja mengetahui berton-ton teologi tanpa pernah membiarkan teologi itu menguasai jiwa Anda. Namun maksud Yesus adalah agar Anda merenungkan Kitab Suci di dalam pikiran Anda terus dan terus supaya Anda mendapatkan cara-cara baru untuk dapat menyenangkan-Nya dan memuji-Nya. Apa pun yang kita minta akan diberikan jika kita berjalan dekat dengan Tuhan dan secara konsisten tetap tinggal di dalam Firman-Nya.
Ada satu hal lagi. Selama bertahun-tahun saya menerapkan resep ini dalam doa-doa saya sendiri untuk memohon kesembuhan. Saya sudah berusaha untuk tetap tinggal di dalam Tuhan dan membuat Firman-Nya tetap tinggal di dalam diri saya. Tetapi setelah dua puluh lima tahun, saya tetap lumpuh.
Jadi, apa pelajaran hari ini? Terkadang Yesus berkata … tidak. Atau, paling tidak, belum.
Surat pertama Yohanes 5:14-15 berkata, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu karena la mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Jikalau kita tahu bahwa la mengabulkan apa saja yang kita minta maka kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.”
Tuhan, aku hanya memohon agar kiranya kehendak-Mu digenapi di dalam hidupku. Dengan demikian aku memiliki kepastian, bahwa kehendak-Mu akan selalu berkata “ya” pada doa itu!
Joni Eareckson Tada

Panta Rhei, Ouden Menei
Malam tahun baru biasanya penuh keramaian. Orang bersalaman dan berangkulan. Bunyi terompet dan alat-alat musik memekakkan telinga. Kembang api dan petasan bersiuran. Langit menjadi terang benderang.
Apa sebetulnya asal usul kebiasaan membuat keramaian pada malam tahun baru? Konon, asal usulnya adalah kepercayaan di negeri Cina purba tentang roh-roh jahat. Beberapa abad sebelum Masehi, para petani di negeri Cina percaya bahwa banyak roh jahat suka mendatangi rumah penduduk desa pada malam tahun baru. Jika roh-roh jahat itu memasuki desa, maka akibatnya tahun yang baru akan menjadi tahun yang sial dan sepanjang tahun akan terjadi banyak malapetaka. Karena itu pada malam tahun baru orang mencegah kedatangan roh-roh jahat. Untuk maksud itu, mereka memasang lentera di depan rumah, di halaman dan di tepi jalan, karena roh jahat takut kepada terang. Namun itu saja belum cukup. Untuk menakut-nakuti roh jahat, mereka pun menabuh genderang dan membuat bunyi-bunyian lain. Kemudian hari ketika mereka menemukan cara pembuatan kembang api dan petasan, mereka pun mengusir roh jahat dengan kembang api dan petasan. Dengan membuat terang dan bunyi-bunyian itu mereka merasa diri lebih aman dan pasti. Jadi sebenarnya, yang mereka usir bukan hanya roh jahat, melainkan perasaan tidak pasti tentang tahun yang baru.
Dewasa ini keramaian malam tahun baru tidak ada sangkut pautnya dengan mengusir roh jahat. Dewasa ini kita membuat keramaian untuk merayakan kegembiraan pergantian tahun. Tetapi mungkin, tanpa sadar, keramaian itu kita buat untuk mengusir semacam perasaan tidak pasti tentang tahun yang baru dan hari depan kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita diliputi ketidakpastian. Dan rasa tidak pasti selalu kurang menyenangkan. Rasa tidak pasti mengakibatkan kita gelisah, resah, kuatir, takut, bingung dan tidak menentu. Untuk mengusir perasaan-perasaan tidak enak itu kita berkompensasi dengan bertindak seolah-olah kita merasa begitu pasti. Sebab itu kita ramai-ramai meniup terompet’ tertawa tergelak-gelak, menari-nari, bersorak dan membuat keramaian.
Pergantian atau perubahan tahun memang mengakibatkan perubahan dan timbulnya keadaan yang baru di pelbagai aspek hidup kita. Ada perubahan yang menyenangkan, namun ada pula perubahan yang menimbulkan rasa kurang pasti.
Saat-saat seperti pergantian tahun menyadarkan kita bahwa waktu terus berubah. Keadaan yang telah menjadi pasti di tahun yang lalu akan segera berakhir, kemudian diganti dengan keadaan yang serba tidak pasti. Tidak ada yang tetap. Segala sesuatu ada waktunya. Pengkhotbah 3:2-8 menulis:
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam, ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari, ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu, ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk, ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi, ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang, ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit, ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci, ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Kata-kata Pengkhotbah itu secara tidak langsung merupakan gema dari pemikiran Herakletus, filsuf Yunani, yang hidup sekitar 200 tahun sebelum Pengkhotbah. Herakletus berujar, “Panta rhei, ouden menei”, artinya: ’’Segala sesuatu mengalir, tidak ada yang tetap”.
Dalam hidup ini kita memang sering menghadapi perubahan yang menimbulkan perasaan kurang pasti, seperti misalnya pergantian tahun, pindah tempat tinggal, berganti pekerjaan, berada di tengah lingkungan yang serba asing atau berada di tengah-tengah orang-orang yang belum kita kenal. Pada saat-saat seperti itu kehadiran seseorang yang mencintai kita dapat mengurangi ketidakpastian.
Perasaan itu pula yang ditimbulkan oleh Nabi Yeremia kepada umat Israel dan Yehuda ketika mereka diliputi ketidak pastian dalam pembuangan di Babil. Yeremia menyampaikan kepastian kehadiran Tuhan, ”Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3). Perhatikan sifat atau kualitas kasih Tuhan: kekal dan setia.
Di tengah ketidakpastian akibat perubahan dan pergantian, Allah memberi jaminan bahwa sikap-Nya kepada umat tidak akan berubah, apa pun juga yang terjadi. Kasih Tuhan bukanlah ”aku cinta kamu, kalau kamu baik”, melainkan ”aku cinta kamu, bagaimana pun juga kamu”. Itulah kasih yang kekal dan setia, yaitu tidak bersyarat dan tidak tergantung keadaan.
Waktu terus berubah dan keadaan juga ikut berubah. Tidak ada kepastian yang permanen, tetapi kasih Allah sebagaimana sudah ditunjukkan oleh Yesus tidak berubah. Surat Ibrani 13:8 menegaskan, ’’Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”
Waktu bukan hanya terus berubah, melainkan juga terus mengalir. Waktu dalam hidup kita mengalir bagaikan air sungai yang tidak dapat kita tarik kembali. Air itu mengalir dengan cepat. Jarang kita sadari bahwa semakin lanjut usia kita semakin cepat pula sang waktu mengalir.
Sebuah ukiran di lonceng tua Katedral Chichester di Inggris berbunyi:
When as a child I laughed and wept, time crept.
When as a youth I dreamed and talked, time walked.
When I became a full-grown man, time ran.
And later as I older grew, time flew.
Soon, I shall find while travelling on, time gone!
Will Christ have saved my soul by then?
Terjemahan bebasnya berbunyi:
Ketika sebagai anak kecil aku menangis dan terbahak, sang waktu merangkak.
Ketika sebagai pemuda aku bermimpi dan penuh gagasan, sang waktu berjalan.
Ketika aku dewasa dan mandiri, sang waktu berlari.
Kemudian ketika usia senja menjelang, sang waktu terbang.
Lalu ketika masih dalam perjalanan yang manis, sang waktu, tiba-tiba habis!
Apakah sepanjang waktu itu aku sudah diselamatkan Kristus?
Andar Ismail

Kabar Buruk, Kabar Baik
“[Aku berdoa] supaya mereka semua menjadi satu supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Yohanes 17:21
Lima hari menjelang Natal, sebuah berita utama di surat kabar berjudul:
KEBAIKAN? KEDAMAIAN? TIDAK ADA DI GEREJA INI
Sebuah gereja yang berusia 133 tahun sedang terancam perpecahan. Pendetanya dicemooh saat berkhotbah. Kelompok-kelompok jemaat yang bersaing mengedarkan kantong persembahan mereka sendiri-sendiri. Bahkan polisi harus dipanggil tatkala pertengkaran yang terjadi mulai tak terkendali saat kebaktian berlangsung.
Itu kabar buruknya. Kita tersudut ketika masyarakat menyoroti umat kristiani yang terpecah belah oleh iri hati dan kemarahan.
Di pihak lain, kabar baiknya adalah bahwa hal semacam ini adalah suatu kejadian yang langka. Surat kabar biasanya hanya memuat hal-hal yang tidak biasa dan aneh, dan bukan peristiwa umum dalam kehidupan sehari-hari. Kita membaca tentang kecelakaan sebuah pesawat terbang, tetapi bukan tentang sukses pendaratan pesawat yang tak terhitung jumlahnya; tentang sebuah gereja yang terpecah karena kebencian, bukan tentang begitu banyak gereja yang diliputi oleh kasih.
Tepat sebelum penyaliban, Yesus berdoa agar para pengikut-Nya “menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (ayat 21).
Saat doa Yesus itu terjawab dalam hidup Anda dan dalam gereja Anda, kemungkinan besar hal itu takkan dimuat sebagai berita utama surat kabar. Namun Anda dapat menyenangkan hati Allah dan menunjukkan kepada banyak orang di dunia yang semakin kacau ini bahwa Raja Damai telah datang.
Dalam tubuh Kristus tak boleh ada pertengkaran
Renungan Harian

Sebarkan Sejahtera di Natal Ini
“Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah, katanya: ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya'” Lukas 2:13-14
Natal adalah waktu yang sangat penting dari setiap tahun. Itulah waktunya seluruh dunia mendengar berita kelahiran Yesus. Itulah waktunya orang berhati lembut… waktu yang tepat untuk menanam benih kasih di dalam kehidupan orang-orang yang Anda jumpai.
Terkadang benih-benih itu mungkin hanya berupa sepatah kata yang ramah di tengah-tengah jam belanja yang sibuk. Pada kesempatan lain, Anda mungkin memperoleh peluang untuk berdoa dan melayani seseorang. Tetapi apa pun situasinya, perhatikanlah dengan cermat bahkan suatu kesempatan terkecil saja untuk membantu orang lain.
Saya mempunyai beberapa pengalaman yang menonjol dalam memberikan beberapa dolar untuk seseorang yang kekurangan. Pada saat mereka mengambil uang itu, saya memberi tahu mereka, “Uang ini dari Tuhan Yesus Kristus. Saya melayani Dia. Dialah yang menyuruh saya membantu Anda.”
Sungguh ajaib betapa banyak orang yang siap mendengar ucapan Anda bila disampaikan dalam kasih. Mereka sangat membutuhkan seseorang yang benar-benar peduli. Jadilah seseorang itu pada Natal ini. Sebarkan Firman tentang sejahtera yang tersedia di dalam Yesus. Beritahukan tentang kebaikan-Nya terhadap umat manusia. Siapa tahu betapa banyak benih kecil itu mungkin pada suatu hari akan berakar dan mengantar seorang pribadi lagi ke dalam Kerajaan Tuhan yang mulia!
Kenneth

Sumber Air
“Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.” Zakharia 13:1
Suatu hari pada musim panas yang sangat panas, saat saya masih kecil, ibu saya membawa saya ke taman. Saya ingat di sana ada sebuah sumber mata air besar di atas bukit yang mengalir dari kebun binatang sampai ke arboretum. Saat kami berjalan di sekitar sumber air itu, saya memandang dengan penuh keinginan ketika anak-anak tetangga bermain-main di dalam air. Saya memohon kepada ibu supaya diizinkan untuk bergabung bersama-sama mereka dan ibu saya melakukan hal yang benar-benar mengagumkan—dia mengizinkan saya!
Ibu membantu saya membuka sepatu dan melepaskan kaus kaki lalu saya masuk ke dalam air bersama-sama dengan anak-anak lainnya. Baju dan celana pendek saya basah kuyup, dan ada sekelompok anak laki-laki dan perempuan yang tertawa-tawa dengan tangan yang direntangkan dan kepala yang ditengadahkan saat air itu memancar kepada kami dari sumber air yang ada di atas. Kami merasa bebas. Sangat gembira, dan begitu bersemangat.
Sumber air merupakan sebuah tempat yang penuh sukacita. Itulah yang ada di dalam pikiran saya saat saya mendengar hymne ini.
Ada sebuah sumber air yang penuh dengan darah
Yang mengalir dari aliran darah sang Imanuel;
Dan orang-orang berdosa, masuk ke dalam aliran itu,
Membersihkan semua noda kesalahan mereka.
Allah telah membukakan sebuah sumber air bagi Anda melalui Tuhan Yesus. Dia mengundang Anda untuk datang dan masuk ke dalamnya untuk menikmati kasih-Nya. Jangan hanya berdiri di tepi-tepi sukacita-Nya. Dia telah membasuh dosa-dosa Anda dan Anda, seperti seorang anak, dapat begitu bebas dan bergembira
Oh, menjadi seperti seorang anak, menikmati kebebasan dan sukacita dari semua yang dilimpahkan oleh kasih-Mu, Tuhan. Terima kasih karena Engkau sudah membersihkan aku dari dosa dan membasuh semua ketidakmurnianku. Aku mengangkat wajahku dan membentangkan tanganku di dalam penyembahan kepada-Mu.
Joni Eareckson Tada

Frustrasi
Adven adalah masa penantian. Adventus artinya kedatangan. Tetapi jangan keliru. Yang dinantikan itu bukanlah sesuatu yang masih akan datang. Melainkan sesuatu yang sebenarnya sudah datang.
Bila ia sudah datang, mungkin begitu Anda bertanya, mengapa mesti kita nantikan lagi? Sebabnya ialah ia masih tersembunyi. Sedikit banyak masih merupakan suatu misteri.
Masih belum jelas juga bagi Anda? Baiklah saya jelaskan melalui suatu umpama.
Bayi yang masih berada di dalam kandungan tak dapat kita katakan belum ada, bukan? Namun, toh masih ada yang mesti kita nantikan. Saat ia lahir ke bumi. Ketika ia tidak lagi tersembunyi. Menjadi kenyataan yang terbuka, yang dapat ditatap. Yang dapat didekap.
Orang kristiani mempunyai istilah yang keren tentang kerajaan yang harus dinantikannya: Kerajaan Allah.
Istilah yang keren ini memang menyimpan suatu rahasia. Tetapi juga dapat dijelaskan dengan sangat sederhana.
Kerajaan Allah adalah suatu proses transformasi yang total dan radikal atas seluruh alam ciptaan. Termasuk di sini pembaruan yang total dan radikal dari seluruh kehidupan manusia: ya kehidupan politiknya, ya kehidupan ekonominya, ya kehidupan pribadinya, ya kehidupan sosialnya, dan sebagainya. Sebab itu, ia amat menyeluruh. Dan amat konkret.
Kerajaan Allah bukanlah suatu kenyataan ekstraterestrial, yang akan dipaksakan dari luar ke dunia manusia. Ia juga bukan sekadar suatu pembaruan “internal” atau “spiritual” semata-mata. Melainkan suatu proses pembebasan dunia di mana kita hidup, dunia yang kita kenal, raba, rasa, lihat, dan cium—dunia kita yang nyata. Dibebaskan dari apa? Dari segala sesuatu yang secara riil dan potensial merusak dan menghancurkannya. Sehingga ia menjadi dunia yang seharusnya. Dan hidup menjadi hidup yang seharusnya. Di mana “shalom” bertakhta; yaitu kesejahteraan yang sepenuhnya: kelimpahan, kedamaian, dan keadilan. Lahir dan batin. Perorangan dan persekutuan. Itulah yang sedang kita nantikan.
Namun, yang kita nantikan bukanlah sesuatu yang belum ada. Sesungguhnya, ia sudah ada.
Seperti fetus di dalam rahim. Kita mendengar denyut jantungnya. Kita merasakan sepakan kakinya.
Oleh karena itu, keadaan kita sekarang adalah ibarat sang ibu di ambang persalinan.
Ada antisipasi yang penuh. Ada kedambaan yang sungguh.
Namun, juga ada agony dan frustrasi. Kesakitan yang sangat.
Sebab, yang kita nantikan itu mungkin belum dapat kita tatap. Belum dapat kita dekap. Kita masih harus mengejan. Dan mengerang. Entah sampai kapan.
Itulah, Saudara, mengapa kita merasa geram melihat ketidakadilan. Trenyuh melihat kemelaratan. Mengumpat melihat kerakusan dan keserakahan. Memberontak melihat kesewenang-wenangan. Muak melihat kemunafikan. Sebab yang kita nantikan itu begitu bertolak belakang dengan kenyataan.
Namun, hanya sampai di situ. Tak lebih.
Kita mungkin adalah singa jantan. Mengamuk dan menggeram dengan gagahnya. Namun, kita di dalam perangkap. Tak mungkin keluar dari sana.
Itulah frustrasi.
Salahkah bila Anda mengatakan bahwa hati nurani telah mati di zaman ini?
O, tidak sama sekali! Kita masih mempunyai semacam rasa bersalah. Atau lebih tepat: rasa serbasalah.
Hati kita tidak diam melihat kelaliman. Betapa inginnya kita bangkit, bersuara, bertindak menentangnya. Namun, toh akhirnya kita diam saja. Sebab alangkah berbedanya antara membela orang lain yang celaka, dengan membiarkan diri kita sendiri celaka. Kita lalu diam, walau rasa bersalah itu tak hilang-hilang juga. Serbasalah.
Jurang yang semakin menganga antara yang melarat dan yang berada, adalah bentuk ketidakadilan yang terang-terangan. Betapa ingin kita berbuat sesuatu. Namun, mengapa tidak? Sebab alangkah berbedanya antara kemauan untuk mengangkat nasib mereka yang melarat, dengan kerelaan untuk melepaskan kepentingan dan hak-hak istimewa kita sendiri. Kita lalu diam, walau rasa bersalah itu tak hilang-hilang juga. Serbasalah.
Itulah frustrasi.
Frustrasi adalah juga rasa tak berdaya. Mau, tapi tak mampu. Tahu bahwa kenyataan kini begitu berlawanan dengan kenyataan yang sedang kita nantikan. Mau berbuat sesuatu. Tapi tak mampu. “Apa sih yang dapat kita lakukan?”
Namun, justru itulah yang ingin saya katakan. Ada yang dapat dan harus kita lakukan!
Sebab Allah sendiri yang tengah membidani proses persalinan itu. Allah adalah jaminan bahwa kelahiran bayi itu begitu pasti.
Bila saja sang ibu mau mengejan lebih kuat. Bila saja sang ibu tak cepat kelelahan di tengah jalan. Bila saja sang ibu bersedia masuk ke dalam kesakitan itu sedikit lebih lama lagi. Itulah yang dapat dan harus kita kerjakan.
Dan bila tidak? Memang persalinan akhirnya akan terjadi juga. Tidak dapat tidak. Allah tak pernah gagal.
Namun, sangat menyakitkan. Allah akan menyayat dan membedah. Operasi caesar merupakan satu-satunya jalan. Ini betul-betul sakit, Saudara. Kalau boleh, kita hindari.
Eka Darmaputera

Tuntutan
“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sunguh mencari Dia.” Ibrani 11:6
Tuhan menuntut iman dari kita. Jadi, jika Tuhan menuntut dari kita untuk mempunyai iman sedangkan tidak mungkin bagi kita untuk memilikinya, maka kita berhak untuk menentang kebenaran yang Ia cetuskan itu. Tetapi apabila Tuhan sudah menempatkan ke dalam tangan kita perlengkapan yang memungkinkan bagi kita untuk memiliki iman itu, maka pertanggunganjawabnya terletak di tangan kita sendiri, apakah kita memiliki iman atau tidak.
Tuhan telah memberikan Firman Tuhan kepada kita, dan Dia telah berkata bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17).
F.F. Bosworth, seorang penginjil yang berkuasa dalam kesembuhan ilahi dan penulis buku Christ the Healer (Kristus Sang Penyembuh), berkata, “Kebanyakan orang Kristen memberi makanan lengkap bagi tubuh mereka tiga kali sehari, tetapi mereka hanya makan cemilan rohani satu kali saja dalam seminggu, kemudian mereka heran mengapa mereka begitu lemah dalam iman mereka.”
Pengakuan: Saya akan menyenangkan Allah Bapa. Saya akan berjalan dalam iman. Saya akan memberi makan iman saya secara tetap dan teratur dengan firman iman yang telah Tuhan berikan di dalam tangan saya.
Kenneth E. Hagin

Memiliki Pengalaman Bersama Kristus
“Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena menaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” Filipi 3:8-9
Di dalam pembacaan hari ini, Paulus melukiskan seperti apa mengenal Kristus yang dibenarkan dan posisi yang dianggap sah menurut pandangan Allah. Di sini, Paulus sedang berkata bahwa Allah telah melakukan sesuatu bagi kita di dalam kitab-kitab-Nya. Indah sekali saat kita mengetahui bahwa Tuhan menganugerahkan kebenaran-Nya bagi kita. Namun ada banyak lagi. Setelah ayat 9 dari kitab Filipi ini, Paulus membahas sebuah bentuk pengetahuan yang berbeda tentang Kristus. Paulus tidak lagi berkomentar tentang posisinya, fakta bahwa dia telah “berada di dalam Dia . . . dengan . . . kebenaran yang Allah anugerahkan.” Namun, Paulus berbicara tentang pengalamannya akan Allah ….
“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Filipi 3:10-11)
Memosisikan merupakan tugas Allah, tetapi mengalami merupakan tugas Paulus. Memiliki pengalaman bersama Allah artinya menikmati dan menyadari, mengerti dan memahami Tuhan di dalam sebuah persekutuan yang dalam dan pribadi. Sama seperti Paulus, ini adalah tanggung jawab Anda juga.
Jika ada seseorang yang bertanya, “Apakah Anda mengenal Yesus?” apa yang akan Anda katakan? “Ya, saya telah diselamatkan dan saya tahu bahwa saya akan masuk sorga.” Jika itu jawaban Anda, bagus. Anda hanya perlu memberi tahu semua orang bahwa Anda telah dibenarkan dan diampuni. Tetapi saya berharap Anda dapat juga berkata, “Ya, Yesus dan saya memiliki hubungan yang sangat erat. Izinkan saya menceritakan kepada Anda seperti apa Dia dan betapa saya sangat menikmati menghabiskan waktu bersama-Nya.”
Tuhan. Aku ingin mengenal-Mu lebih dalam lagi dan bukan hanya sekadar pengetahuan saja.
Joni Eareckson Tada

Dari Susu ke Makanan Keras
“Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari pernyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras” Ibrani 5:12
Maukah Anda mengetahui mengapa Tubuh Kristus mengalami keadaan berantakan beberapa tahun terakhir ini? Maukah Anda mengetahui mengapa iblis telah dapat menunjukkan di muka umum kelemahan-kelemahan kita? Maukah Anda mengetahui mengapa kita sering dicabik-cabik oleh perpecahan dan kecaman yang berasal dari dalam?
Itu disebabkan oleh, seperti dikatakan Tuhan dalam buku Ibrani, umat Tuhan membutuhkan susu dan bukannya makanan keras. Mereka adalah sekumpulan bayi! Sebagian besar dari umat Tuhan tidak mengetahui jalan-jalan-Nya.
Karena itu Dia telah menugaskan kita untuk melatih para pemercaya yang tidak terampil dalam Firman kebenaran dan membantu mereka menuju kedewasaan.
“Tentu,” kata Anda, “Anda seorang pendeta, tetapi bagaimana dengan saya? Apakah yang dapat saya lakukan?” Baiklah, saya akan mengatakannya. Saya percaya Tuhan telah memanggil kita bersama untuk suatu tugas. Anda akan dapat mengetahui hal itu dalam Ibrani 3:13. “Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan hari ini.”
Itu bukan lagi hanya sebuah ayat Alkitab bagi saya. Itu merupakan perintah langsung dari Tuhan. Gloria dan saya menerima perintah itu beberapa tahun yang lalu ketika kami sedang berkhotbah di Australia. Itu mendorong kami untuk melangkah keluar dalam iman untuk mengadakan siaran televisi setiap hari. Tetapi itu bukan hanya perintah yang ditujukan bagi kami. Itu adalah perintah yang kita semua harus mematuhinya menurut cara kita.
“Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari.” Berdoalah mengenai ayat itu, hari ini. Bersekutulah dengan Bapa Anda mengenai hal itu. Bertanyalah kepada-Nya mengenai cara Dia ingin Anda mematuhi perintah itu. Dia mungkin akan menyuruh Anda untuk menunjang pelayanan seperti pelayanan Gloria dan saya yang mengajar Firman tanpa kompromi setiap hari. Dia mungkin menyuruh Anda mengasihi diri Anda sedemikian penuh dengan Firman sehingga itu meluap kepada setiap orang yang Anda jumpai dan mendorong mereka untuk maju terus dan bertumbuh terus dalam Yesus.
Apa pun yang dikatakan-Nya, lakukanlah! Sekalipun gereja penuh dengan bayi rohani dan lebih banyak lagi yang akan lahir sepanjang waktu, Anda dapat membantu kemajuan mereka dari susu menuju ke makanan keras. Mulailah menasihati mereka pada hari ini.
Kenneth

Tahukah Anda yang Harus Diminta?
“Tanya Yesus kepadanya: ‘Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’ Jawab orang buta itu: ‘Rabuni, supaya aku dapat melihat!”‘ Markus 10:51
Kita semua tahu artinya merasa bingung. Berdoa untuk mengatasi suatu bencana keuangan lalu menghadapi bencana lainnya. Menerima kesembuhan untuk suatu penyakit lalu segera dilanda penyakit lain.
Kita berusaha. Kita berdoa. Kita melatih iman kita. Tetapi terus terjebak dalam masalah yang lama berulang kali. Mengapa? Karena sering kita tidak sesungguhnya tahu hal yang perlu kita doakan.
Reaksi Anda mungkin seperti ini, “Saya tahu hal yang saya butuhkan. Tetapi memperoleh pemenuhan kebutuhan itulah yang membingungkan saya.”
Itulah juga yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Mereka menghabiskan semua waktu mereka untuk berusaha memperolehnya. Mereka memboroskan tenaga untuk mendoakan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan dan meminta hal-hal yang tidak mereka inginkan. Lalu pada akhirnya mereka tidak mencapai kemajuan apa pun.
Mari kita simak bersama di Markus 10. Bartimeus yang buta sedang duduk di tepi jalan meminta-minta ketika Yesus lewat di situ. Ketika didengarnya bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah dia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”…. ‘Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’ Jawab orang buta itu: ‘Rabuni, supaya aku dapat melihat!’ Lalu kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!'” (ayat 47, 50-52).
Dipandang dari pernyataan Alkitab itu, berapa banyakkah kebutuhan Bar¬timeus? Apakah dia hanya mempunyai satu kebutuhan saja? Tidak! Dia bukan semata-mata seorang buta, dia seorang pengemis. Dia mungkin mempunyai lebih banyak masalah daripada yang dapat Anda duga. Tetapi penglihatanlah yang sebenarnya dibutuhkannya. Jika dia dapat memperoleh penglihatannya, semua hal lainnya akan beres dengan sendirinya.
Dia mengetahui itu. Jadi, ketika Yesus berkata, “Bartimeus, apakah yang kau kehendaki Aku perbuat bagimu?” dia tahu dengan tepat permohonan yang dimintanya dan dia memperolehnya.
Yesus pada hari ini sama siapnya bagi Anda seperti Dia dahulu bagi Bartimeus. Pertanyaannya ialah: tahukah Anda sesungguhnya apa yang harus diminta?
Pikirkanlah itu. Berdoalah untuk itu. Izinkan Tuhan Yesus membuka mata Anda dan menunjukkan kebutuhan Anda yang sesungguhnya. Jika Anda melakukan hal itu, doa-doa Anda akan mendapat kekuatan yang baru yang akan langsung terarah pada inti persoalan nya. Jangan memboroskan hidup Anda dalam kebingungan lagi.
Kenneth

Kita Semua Keturunan Imigran
Sejarah keselamatan terbentang sepanjang Kitab Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru; berawal dari Abraham, nenek moyang bangsa Israel, sekitar tahun 2000 sM. Jadi, sudah empat ribu tahun yang lalu. Uh, lama sekali. Memang lama menurut ukuran umur kita. Akan tetapi, dari sudut sejarah umat manusia, itu cuma baru-baru ini saja. Menurut ilmu kepurbakalaan atau arkeologi, nenek moyang kita sudah ada sejak empat juta tahun lalu. Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa semua penduduk bumi ini asal-mulanya berasal dari nenek moyang yang sama, yang tinggal di sekitar Danau Baringo di Kenya. Perpindahan penduduk atau perpindahan bangsa membuat manusia kemudian terpencar ke berbagai bagian dunia.
Perpindahan bangsa – yang biasanya terjadi karena kelaparan, bencana alam, perubahan iklim yang drastis atau sifat petualang – terjadi dengan banyak variasi. Adakalanya seluruh penduduk bermigrasi, ada pula yang hanya sebagian. Ada perpindahan jarak jauh dan lama, ada yang jarak dekat dan singkat. Ada perpindahan searah dari A ke B lalu ke C dan seterusnya, ada pula yang balik arah, yaitu setelah bermukim ribuan tahun di C kemudian kembali lagi ke B. Ada perpindahan yang utuh sejak berangkat hingga tiba, ada pula yang terpecah di tengah jalan.
Kebanyakan perpindahan itu terjadi melalui darat. Pada zaman purba wajah bumi berbeda dari sekarang. Yang sekarang gurun pasir, dulu adalah hutan lebat yang subur. Yang sekarang laut, dulu adalah darat. Pada zaman purba Inggris menyatu dengan daratan Eropa, Alaska menyatu dengan Siberia dan Cina, Australia menyatu dengan Irian, selanjutnya Pulau Timor, Flores, Sumba, Sumbawa, Bali, Jawa, Kalimantan, Sumatra dulu semuanya menyatu dengan Singapura, Malaysia, Vietnam dan Cina.
Bagaimana rute perpindahan itu? Dari fosil-fosil yang ditemukan dapat dibuat peta dan hipotesa. Gelombang pertama perpindahan agaknya terjadi satu juta tahun yang lalu dari Kenya menuju Israel. Dari situ kemudian mereka bergerak ke dua arah; satu ke Eropa dan yang lain ke India lalu ke Cina Selatan. Ratusan ribu tahun kemudian penduduk Cina Selatan ini bergerak ke arah selatan hingga ke Pulau Jawa (di desa Sangiran ditemukan fosil homo erectus). Dari pulau Jawa terjadi lagi migrasi ke Australia. Sementara itu penduduk Cina Selatan ada pula yang bermigrasi ke Cina Utara. Lalu gelombang yang sudah bermukim di Eropa, sebagian bergerak melintasi Siberia dan tiba di Cina Utara. Di Cina Utara terjadi titik temu kedua gelombang itu. Kemudian hari penduduk Cina Utara bermigrasi ke Alaska dan terus menyusuri pantai barat Amerika hingga ke Peru. Majalah National Geographic yang secara khusus melaporkan penemuan-penemuan ini menyimpulkan bahwa bangsa-bangsa yang kini tersebar di seluruh dunia semuanya adalah keturunan migran dari nenek moyang yang sama.
Menarik untuk disimak bahwa kesaksian tentang Abraham, yang disebut bapa semua orang percaya (Rm. 4:11), adalah kisah suatu perpindahan bangsa. Kisahnya terdapat mulai dari Kejadian 11;27 s/d 25:11. Keluarga Abraham (lebih tepat: keluarga Terah, yaitu ayah Abraham) adalah orang Ur-Kasdim (kini: Irak, dekat perbatasan Kuwait). Dari Ur-Kasdim keluarga besar ini bermigrasi ke arah barat laut menyusuri Sungai Efrat. Mereka tiba di Haran (kini: perbatasan Syria dan Turki) dan ’’menetap di sana” (Kej. 11:31). Di sana Terah meninggal. Kemudian keluarga ini bermigrasi lagi ke arah selatan, melewati daerah yang kini adalah Lebanon hingga tiba di Kanaan (kini: Israel). Untuk sementara, mereka pernah bermigrasi ke Mesir karena bencana kelaparan (Kej. 12:10).
Di Kanaan Tuhan beberapa kali memastikan ulang janji yang diucapkan-Nya di Haran (dan agaknya juga di Ur-Kasdim). Begitulah menurut Kejadian 12:6-7, di suatu tempat yang simbolis (’’pohon tarbantin” adalah sejenis pohon ek yang dianggap keramat, dan ”More” berarti petunjuk). Tuhan menampakkan diri lalu Abraham mendirikan mezbah sebagai ungkapan percaya. Di situ Tuhan meneguhkan janji-Nya, ”Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.”
Dengan kisah ini para pengarang bersaksi tentang lahirnya bangsa Israel, bangsa yang dipilih oleh Allah untuk melahirkan seorang Mesias. Tetapi, mengapa pengarang memakai cerita perpindahan bangsa sebagai konteks kisah? Pengarang ini memang cakap bertutur. Misalnya di satu pihak, lahirnya bangsa ini dikisahkan sebagai upaya seorang bapak pendiri bangsa, yaitu Abraham. Namun, di lain pihak semua ini dikisahkan sebagai upaya Allah. Dengan sengaja kalimat pertamanya berbunyi: ’’Berfirmanlah Tuhan …” (Kej. 12:1).
Selanjutnya, di satu pihak pengarang meniihbulkan rasa nasionalisme: Inilah awal lahirnya bangsa kita! Namun, di lain pihak pengarang seolah-olah berpesan: Jangan sok nasionalis. Jangan berpikir kerdil. Bangsa kita juga bangsa campuran. Nenek moyang kita adalah imigran dari Ur-Kasdim. Sekarang kita memang orang Israel, tetapi jangan sebut orang Israel asli. Tidak ada orang Israel asli. Apanya yang asli? Tidak ada penduduk asli. Tidak ada penduduk pribumi. Semua orang adalah keturunan imigran. Semua orang adalah pendatang. Kita semua keturunan imigran.
Andar Ismail

Menghasilkan Buah-buah Rohani
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes 15:5
Merencanakan bagaimana cara menanggapi kata-kata pedas seorang saingan cukup mudah. Kita bisa berdoa dan berusaha mempersiapkan diri secara mental untuk menjadi kuat di dalam karakter. Namun sebagai orang-orang Kristen, kita sadar bahwa Setan ingin menghancurkan kita. Kita semua mengalami sulitnya bertahan pada rumusan yang semula saat sebuah relasi memburuk.
Efesus 6:12 mengatakan kepada kita bahwa pergumulan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan kekuatan spiritual si jahat—melawan balatentara Setan. Jangan ambil hati ejekan-ejekan tajam saingan Anda, dan jangan menanggapi dengan cara yang menyerang kepribadiannya. Pertikaian Anda yang sebenarnya adalah melawan elemen yang tidak dapat Anda lihat.
Kekuatan untuk bereaksi dengan cara ini tidak berasal dari diri sendiri. Sebaliknya, kemampuan Anda untuk menanggapi dengan benar orang-orang yang mudah tersinggung dalam situasi yang panas hanya berasal dari Roh Kudus yang diam di dalam Anda. Kuasa Yesus dapat mengubah air yang pahit menjadi anggur manis.
Perhatikan bahwa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, keramahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri adalah buah-buah Roh, dengan huruf R besar. Itu adalah Roh Yesus di dalam diri Anda yang akan menghasilkan tanggapan yang benar.
Yohanes 15:5 mengatakan bahwa memastikan reaksi yang benar itu sealami proses bertani: yang harus Anda lakukan adalah tinggal di dalam Pokok Anggur yang benar agar dapat menghasilkan buah-buah Roh.
Bapa sorgawi, bantulah aku untuk tinggal di dalam sang Pokok Anggur dan menghasilkan buah-buah Roh-Mu. Curahkanlah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, keramahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri di dalam hidupku.
Charles Stanley

Teologi
Anda pernah mendengar nama Hans Kung? Mungkin pernah. Mungkin juga belum.
Ia adalah salah seorang teolog Roma Katolik yang paling terkemuka dan juga paling kontroversial. Lahir di Swiss, belajar di Roma dan Sorbone, lalu bekerja di Jerman. Pengarang banyak buku hebat, serta pemegang banyak gelar doktor kehormatan dari mana-mana.
Pada tahun 1962, ia diangkat oleh Paus Yohanes XXIII menjadi penasihat resmi masalah-masalah teologi pada Konsili Vatikan II. Namun, Paus Yohanes Paulus tidak menyukai pemikiran-pemikirannya. Kini ia profesor Dogmatika dan Teologi Ekumenika serta Direktur Institut Riset Ekumenis di Universitas Tubingen, Jerman Barat.
Bukunya terakhir yang berjudul Teologi Untuk Milenium Ketiga merupakan bestseller, buku terlaris. Walaupun sesungguhnya tidak mudah untuk dipahami, paling sedikit bagi saya.
Asumsinya adalah bahwa menyongsong milenium ketiga (abad ke-21), yang banyak disebut orang sebagai “zaman purnamodern” (tapi ia lebih suka menamakannya “zaman ekumenis”), teologi kristiani yang ada tengah mengalami krisis yang amat hebat. Krisis kepercayaan dan krisis pemahaman. Orang purnamodern tidak lagi memercayainya dan tidak lagi memahaminya.
Untuk mengatasi krisis tersebut, menurut Kung, jalan yang mesti ditempuh oleh teologi tidak boleh sekadar berpaling ke belakang, kembali pada bentuk-bentuk kepercayaan yang tradisional. Atau, dalam kepanikan menyesuaikan diri begitu saja secara oportunistis terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Jadi, mesti bagaimana? Agar teologi kristiani mampu meraih kepercayaan dan mempunyai relivansi sosial setelah tahun 2000 nanti, ia harus merupakan “penjabaran iman kristiani yang secara intelektual dapat dipertanggungjawabkan; pada satu pihak, tetap setia pada Injil, dan di pihak lain mampu menjawab tantangan zaman baru”.
Teologi yang dibutuhkan, menurut Kung, adalah teologi yang mampu berfungsi ke belakang, ke depan, maupun ke samping. Ke belakang, ia mesti mampu mengatasi “konflik-konflik klasik” yang terjadi sejak zaman Reformasi (abad ke-16). Ke depan, ia harus mampu menjawab persoalan-persoalan baru yang muncul pada zaman purnamodern (abad ke-21). Dan ke samping, ia harus mampu menghubungkan diri secara teologis dengan keberadaan agama-agama lain.
Apa kesan Anda setelah membaca sejauh ini? Bingung dan tidak mengerti bahwa teologi seruwet itu? Saya tidak menyalahkan Anda. Teologi memang ruwet dan rumit. Tidak semudah dan sesederhana yang diperkirakan orang.
Mengenai teolog, sekarang ini ada dua pandangan ekstrem yang sama-sama salahnya. Pandangan salah yang pertama mengatakan bahwa semua orang kristiani adalah teolog. Teologi adalah sesuatu yang amat mudah dan sederhana. Kursus Alkitab tertulis beberapa bulan, apalagi bila sudah mempunyai gelar M.Div. atau S.Th. di sekolah-sekolah teologi yang semakin menjamur banyaknya, dianggap sudah cukup untuk melahirkan teolog-teolog.
Situasi ini amat berbahaya sebab akan melahirkan orang-orang yang tidak tahu, tetapi merasa tahu. Sama bahayanya seperti mantri-mantri kesehatan yang merasa diri (dan berpraktik!) sebagai dokter bedah.
Kesalahan ekstrem yang kedua ialah yang menganggap bahwa hanya para sarjana teologi atau para doktor teologi sajalah yang berteologi. Teologi lalu menjadi esoteris, artinya, suatu ilmu rahasia yang hanya dikuasai dan dimonopoli oleh segelintir orang.
Situasi ini juga amat berbahaya. Dari sikap ini lahirlah anggapan bahwa seorang politikus kristiani hanya berpolitik, dan tindakan politiknya itu terpisah sama sekali dari teologi. Atau, seorang usahawan kristiani hanya berdagang, dan mempersetankan teologi. Atau, teolog kristiani hanya berteologi, buta terhadap realitas kehidupan. Teologi lalu kehilangan relevansi sosialnya seperti yang dikatakan Hans Kung.
Jadi, bagaimana seharusnya? Menurut keyakinan saya, setiap orang kristiani harus didorong dan dibina untuk berteologi secara sadar dan secara benar. Sebab sesungguhnya, setiap kali seseorang berusaha menghubungkan kenyataan hidup sehari-hari dengan iman kristianinya, setiap kali itu pula ia sedang berteologi. Hanya saja sering tanpa sadar.
Namun, itu tidak berarti dengan gampangnya kita menahbiskan setiap orang yang menjadi teolog. Sebab, yang dapat disebut teolog adalah mereka yang secara khusus belajar dan menguasai ilmu teologi. Berteologi adalah kewajiban setiap orang, tetapi tidak semua orang berhak disebut teolog.
Lalu, apa gunanya para teolog itu? Gunanya adalah untuk menolong semua orang kristiani supaya tidak saja berteologi secara sadar, tetapi juga berteologi dengan benar.
Situasinya dapat saya bandingkan demikian, yaitu setiap orang sebaiknya dan seharusnya mengetahui dan mempraktikkan hidup sehat. Namun demikian, kita toh tetap memerlukan dokter-dokter yang menguasai ilmu kedokteran. Semakin ahli semakin baik.
Dan mengapa semua ini perlu dikemukakan? Karena mengenai teologi ini, rasa-rasanya semakin banyak orang merasa diri sebagai dokter, bahkan berpraktik sebagai dokter, padahal tidak menguasai ilmu kedokteran dengan cukup. Akibatnya, sama berbahayanya. Dokter gadungan membahayakan jiwa. Walau tak perlu disangkal, yang gadungan itu boleh jadi lebih menarik banyak pasien.
Sayangnya, kalau untuk berpraktik dokter diperlukan izin, sedangkan untuk berteologi tidak. Sebab itu, kita mesti amat teliti dan hati-hati.
Eka Darmaputera

Pencil
Seorang cucu bertanya pada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi nulis tentang pengalaman kita ya? Atau tentang aku?” Si nenek berhenti menulis dan berkata pada cucunya, “sekarang nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”
“Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti,” ujar si nenek lagi. Mendengar jawab ini, si cucu lalu melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai.
“Tapi nek, kayaknya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya,” kata si cucu. Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung dari kamu melihat pensil ini.” “Pensil ini punya lima kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.” Si nenek kemudian menjelaskan lima kualitas sebuah pensil.
“Pertama, pensil ingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendak-Nya”.
“Kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani terima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”
“Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk pakai penghapus untuk perbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
“Keempat, bagian yang paling penting sebuah pensil bukanlah luarnya, tapi karbon yang ada di dalam pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan sadari hal-hal di dalam dirimu.”
“Kelima, sebuah pensil selalu tinggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakanmu.”
Paulo Coelho

Jalan Hidup
Kehidupan yang semakin modern, apalagi di kota-kota besar, membuat orang kian sibuk tak alang kepalang. Orang-orang yang kurang berpunya sibuk bergulat dan berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup dari hari ke hari: makan, pakaian, uang sekolah anak-anak, dan kontrak rumah. Sibuk!
Namun, jangan menyangka bahwa yang te¬lah berpunya lalu boleh bersantai-santai. Mereka pun sibuk luar biasa. Sibuk, untuk lebih berpunya lagi. Untuk menjadi lebih besar, mencapai lebih tinggi, dan mempunyai lebih banyak. Sibuk!
Begitu sibuknya, sehingga orang menjadi terlalu sibuk untuk sempat berhenti dan merenung: untuk apa sebenarnya semua kesibukan itu? Kesibukan-kesibukan yang tanpa henti itu, apakah ia sekadar untuk hidup? Atau untuk mencapai sesuatu yang lebih mulia dan lebih bermakna daripada sekadar hidup?
Namun, apakah hidup itu sesungguhnya? Apakah hidup itu ibarat mobil dan kita adalah sopirnya? Sepenuhnya berada di bawah kontrol dan kendali kita. Tergantung pada kita akan kita bawa ke mana?
Ataukah hidup itu adalah laksana mesin raksasa, dan kita ini cuma salah satu sekrupnya? Tak punya kuasa apa-apa atas hidup kita sendiri?
Dan bila kita memang tak punya kuasa apa-apa atas hidup ini, lantas siapakah yang empunya kuasa? Apakah yang berkuasa itu adalah yang kita sebut “nasib”. Bahwa setiap orang telah tertentu “nasib”nya, seperti tampak pada guratan di telapak tangannya? Bahwa si A akan pendek umurnya, karena begitulah guratan usianya? Tetapi si B akan selalu mujur, karena daun telinganya lebar dan ujungnya tertekuk ke dalam?
Benarkah nasib kita ditentukan peredaran bintang-bintang? Sebab itu, C yang berbintang Scorpio sebaiknya jangan memilih D yang berbintang Virgo, sebab pasti tak akan cocok?
Ataukah sebenarnya hidup manusia itu memang tak punya arah, karena tak ada yang mengarahkan? Bahwa semua yang terjadi itu cuma kebetulan-kebetulan, dan kita pun dipontang-pantingkan seperti sabut kelapa di tengah samudera?
Iman kristiani mengatakan bahwa ada yang menguasai dan mengendalikan kehidupan. Oleh karena itu, hidup manusia sesungguhnya tidak seperti sabut kelapa, tetapi seperti kapal yang mempunyai nahkoda. Kapten atau nahkoda kehidupan manusia itu adalah Allah. Tak satu pun kapal berlayar di luar kuasa kendali Sang Nahkoda itu.
Termasuk Raja Cyrus, atau Koresy. Ia memang tak mengenal Allah. Tetapi Alkitab mengatakan, Allah mengenal dia. “Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau. Sekalipun engkau tidak mengenal aku.” Cyrus pasti mempunyai rencana dan ambisi-ambisinya sendiri. Namun Alkitab mengatakan, bahwa Allah, Sang Nahkoda, juga mempunyai rencana untuk dia. “Aku telah mempersenjatai engkau sekalipun engkau tidak mengenal Aku” (bandingkan dengan Yesaya 45:6).
“Sekalipun engkau tidak mengenal Aku,” begitu beberapa kali dikatakan. Sebabnya ialah karena manusia acap kali tidak mengetahui dan tidak menyadari apa rencana Allah atas dirinya. Daud, yang sedang menggembalakan domba-dombanya, pasti tidak menyadari bahwa Allah menetapkan dia untuk menjadi raja. Elisa, seorang petani yang sedang membajak ladangnya, pasti tak mengetahui bahwa Allah memanggil dia sebagai nabi. Kita pun, di tengah kesibukan dan profesi kita, acap kali tak kunjung mengetahui dengan pasti, apakah memang ini yang Dia kehendaki.
Namun demikian, pengetahuan atau kesadaran kita memang tak pernah menentukan. Kita tahu atau tidak tahu, kita sadar atau tidak sadar, Allah punya rencana atas setiap kehidupan kita.
Persoalannya sekarang, bila kita tak mengetahuinya, lalu apa yang mesti kita kerjakan? Dua hal hendak saya kemukakan.
Pertama, kita mungkin tak mengetahui kehendak Allah yang khusus terhadap orang per orang. Namun, kita toh mengetahui apa kehendak Allah yang umum dan yang berlaku bagi setiap orang dan semua orang. Yaitu, Allah menghendaki keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang.
Itu berarti bahwa sekalipun kita tak mengetahui dengan persis apa rencana khusus Allah untuk satu per satu kita, tapi satu per satu kita dituntut untuk mengarahkan dan menyesuaikan kehidupan kita dengan rencana dan kehendak Allah yang umum itu: Mengusahakan keadilan dan kesejahteraan bagi sebanyak mungkin orang. Sebab apa pun rencana khusus Allah itu, apakah
Dia mau supaya kita menjadi menteri atau petani, pendeta atau pengusaha, ibu rumah tangga atau tukang becak, masing-masing peran itu mesti kita laksanakan dan arahkan sesuai dengan rencana umum Allah: Bertindak adil dan mendatangkan sejahtera bagi sesama. Kita tidak tahu persis apa yang Dia kehendaki secara khusus bagi satu per satu kita, tetapi kita tahu persis apa yang tidak Dia kehendaki, yaitu berlaku tidak adil dan merugikan kesejahteraan sesama.
Apakah godaan dan bahaya itu ada? Sayang sekali, jawabnya adalah “ya”. Bayangkanlah bintang-bintang di langit, entah berapa miliar jumlahnya. Semuanya serba bergerak. Mengapa tak terjadi tabrakan? Sebab masing-masing bintang mengikut alur dan jalur yang telah ditetapkan Allah. Melanggar alur itu, akan berarti bencana. Bencana bagi bintang itu sendiri dan bagi yang lain-lain juga.
Sayang sekali, bintang-bintang itu jauh lebih patuh daripada manusia. Manusia mempunyai kemungkinan (bahkan kecenderungan) untuk keluar jalur. Dan memang itulah sebabnya mengapa hidupnya tak pernah bebas dari bencana dan malapetaka.
Kedua, betapa sering kita tidak dapat mengetahui apa yang direncanakan Allah sebelumnya.
Acap kali kita baru mengetahui sesudahnya. Dan betapa sering rencana Tuhan atas kita begitu bertolak belakang dengan rencana kita. Siapa dapat mengatakan bahwa Paulus telah merencanakan menjadi seorang pengabar Injil sejak awalnya?
Rencana Tuhan atas kita tak selalu yang paling enak dan paling ideal menurut ukuran kita.
Namun, betapa pun tak enaknya, bila kita memang yakin bahwa itulah jalan yang mesti kita tempuh, lebih baik ia kita patuhi dan ikuti. Sebab sekali Dia menyatakan kehendak-Nya kepada kita, kita tak punya lagi kemungkinan untuk melarikan diri. Yunus pernah diutus ke Niniwe, tetapi lari ke Tarsis. Akhirnya, melalui pengalaman-pengalaman yang amat dramatis, toh Tuhan membawanya kembali ke Niniwe.
Yesus memberi teladan yang indah mengenai ini. Dia mengetahui apa rencana Tuhan atas diri-Nya. Dia mesti melalui jalan salib. Dia sama sekali tak menyukainya. Namun demikian, Dia tidak melawannya. Dengan taat Dia memasukinya. Bahkan memuliakan Allah di sana.
“Sekarang jiwa-Ku terharu, dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Yohanes 12:27, 28
Eka Darmaputera

Persahabatan Abadi
“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.” Amsal 18:24
Yesus tidak mengutus murid-murid-Nya sendirian. Ia mengutus mereka berdua-dua. Ini adalah indikasi yang kuat bahwa Allah ingin agar kita membutuhkan bantuan dan kehadiran seorang teman. Pengkhotbah 4:9-10 mengatakan kepada kita:
Berdua lebih baik daripada seorang diri,
Karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.
Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya.
Persahabatan melembutkan kita dan membuat kita lebih mudah untuk diajak hidup bersama. Allah memakai kehadiran sahabat untuk mengingatkan kita akan diri-Nya. Seringkah jalur berkat dimulai dari seorang teman. Tetapi yang jauh melampaui ikatan persahabatan kita di dunia ini adalah kasih Kristus, Sahabat terbaik kita. Melalui Roh-Nya, kita menerima karunia persahabatan-Nya.
Roh Kudus memerintahkan kita sesuai jalan Tuhan, memberikan pengertian, meneriakkan peringatan saat kita keluar dari jalur, dan memberikan rasa damai yang mendalam dan menetap bagi semua yang telah belajar untuk berdiam di dalam Kristus. Namun tujuan terbesar Roh adalah memimpin kita ke dalam relasi yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus.
Tidak ada yang dapat menyaingi persahabatan yang Anda miliki bersama Allah melalui Roh Kudus. Di dalam bahasa Yunani, Ia adalah Penghibur kita—Dia yang telah diperintahkan untuk mendampingi kita setiap kali kita terluka, kesepian atau ketakutan.
Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Aku tidak akan meninggalkan kamu.” Ia serius dengan kata-kata-Nya. Roh Kudus adalah Kristus yang hidup di dalam Anda, sumber persahabatan abadi Anda.
Tuhan, terima kasih atas persahabatan-Mu yang abadi. Aku tidak akan pernah sendirian. Engkau selalu besertaku.
Charles Stanley

Menanggapi Kritikan
“Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati.” Amsal 13:18
Renungkan kembali terakhir kali seseorang mengkritik Anda. Mungkin kritik itu datang dari anggota keluarga, rekan kerja, atau sahabat. Mungkin kritik itu benar-benar tidak disangka-sangka dan begitu mengejutkan Anda. Mungkin reaksi Anda juga tanpa disangka-sangka begitu kasar, menyakitkan, dan getir.
Sebagai orang percaya, kita mengerti bahwa kita ini tidak sempurna. Kadang-kadang Allah sendiri mengoreksi kita. Kadangkala Ia memakai orang lain. Kritikan yang Anda terima mungkin tepat, dan sekalipun tidak, Anda dapat belajar dari pengalaman itu.
Jika Anda merasa sulit untuk menerima kritikan, renungkan bagaimana Anda akan bereaksi terhadap kata-kata seperti itu di masa depan. Allah dapat memakai kritikan atau pujian untuk membentuk Anda, tetapi sikap Anda terhadap keduanya harus benar.
Saat Anda dikritik, untuk sesaat abaikan apakah kritik itu benar atau tidak. Abaikan nada suara si pengkritik. Sebaliknya, persiapkanlah diri Anda dengan berpikir, Mungkinkah kritik ini benar? Lalu tanggapilah dengan cara yang paling tidak berbahaya: “Terima kasih banyak. Saya menghargai apa yang telah Anda katakan, dan saya akan mempertimbangkannya. Apakah Anda punya saran lain bagaimana saya dapat memperbaiki diri?”
Saat Anda menghadapi kritikan dengan kerendahan hati, Anda menyatakan kemampuan Anda untuk diajar. Anda tidak perlu setiap kali berubah, tetapi sesekali, Anda akan menerima kritikan yang benar. Kerendahan hati dan jiwa yang menerima dapat mengubah saat-saat yang mungkin buruk, kejam menjadi sesuatu yang baik.
Berikan aku hati yang rendah hati dan mau diajar, Tuhan. Bantulah aku menerima dan menanggapi kritik yang benar dengan cara yang positif.
Charles Stanley

Jangan Tumpulkan Hati Nurani Anda
“… Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah ….” Efesus 4:17-18
Nafsu hati manusia—lebih senang terhadap tindakan-tindakan dosa yang merupakan kecenderungan nafsu dan sangat menikmatinya—memunculkan pikiran kedagingan dan menyebabkan manusia, dengan semua akal bulus yang mereka miliki, menyusun berbagai macam alasan dan argumentasi untuk membenarkan tindakan mereka. Ketika seseorang dengan kuat memiliki kecenderungan dan dicobai oleh kejahatan, dan hati nurani mereka gelisah karena semua itu, mereka akan memeras otak untuk mendapatkan argumentasi yang dapat membuat diam hati nurani dan membuat mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar.
Refleksi: Bukti-bukti apa yang ada hari ini yang membuktikan bahwa orang-orang sering kali membenarkan tindakan dan perilaku dosa di belakang mereka? Apakah Anda melakukannya? Apa yang dapat Anda lakukan untuk mengubah perilaku tersebut?
Jonathan Edwards

Semerbak Bau Narwastu
Bayang-bayang Golgota kian nyata di depan mata. Awan pekat semakin mendekap dan menyekap. Aroma kematian pun amat menyengat.
Yesus sadar bahwa hidup-Nya tak akan lama. Hati-Nya mulai gundah. Bukan kematian itu yang menekan jiwa-Nya. Melainkan ngerinya penderitaan sebelum maut tiba. Piala pahit berbisa yang mesti direguk-Nya. Alangkah tepatnya yang dikatakan Napoleon Bonaparte: sesungguhnyalah, penderitaan itu lebih mengerikan daripada kematian!
Toh hidup Yesus, seperti kita, tak pernah melulu kelabu. Misalnya, peristiwa itu. Yang terjadi kurang lebih seminggu sebelum ngilunya cemeti dan beratnya salib mengoyak bahu.
Ada sebuah pesta di Betania, tulis Yohanes, “Di situ diadakan perjamuan untuk Dia”. Sebuah pesta khusus untuk Yesus! Ketika awan mendung kian berat menggantung, ada secercah cahaya surya datang menyeruak. Alangkah nikmatnya, biar cuma sejenak.
Sebab apa lagi yang lebih berharga pada saat-saat rasa cemas menyiksa dada, daripada ungkapan kasih setia? Apa lagi yang lebih bernilai, ketika seluruh bumi mendesahkan napas benci, daripada bukti bahwa masih ada sahabat-sahabat yang tetap mencintai? Bayangan penderitaan begitu memenatkan, namun lembutnya cinta betapa menguatkan! Bekal mati yang meringankan gundahnya hati.
Hampir semua sahabat dekat Yesus ada di sana. Namun, Yohanes cuma mencatat tiga nama. Kebetulan, ketiganya bersaudara.
Yang pertama adalah Lazarus. Ia, kata Yohanes, adalah “salah seorang yang turut makan dengan Yesus”.
Yang kedua adalah Marta. Yang seperti kita duga, menurut Yohanes, tengah sibuk “melayani”, repot luar biasa.
Yang ketiga adalah Maria. Tentang Maria inilah, Yohanes bercerita paling banyak. “Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.”
Maria bukanlah seorang gadis kaya raya. Pastilah ia telah menabung cukup lama, sehingga ia berhasil membeli “setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya”. 300 dinar lebih. Atau lebih dari 225.000 rupiah. Anda bayangkanlah: parfum seharga hampir seperempat juta rupiah!
Hampir pasti, Maria tak pernah memakai parfum semahal itu. Parfum itu dibelinya khusus untuk Yesus.
Itulah ungkapan cinta yang paling otentik. Cinta sejati tidak puas cuma memberi dari apa yang sudah ada, banyak atau sedikit. Cinta sejati juga pantang memberi sisa-sisa: sisa uang, sisa pikiran, sisa perhatian, sisa tenaga. Cinta sejati tak pernah cuma asal memberi.
Cinta sejati selalu berarti: dengan sadar dan dengan sengaja menyiapkan sesuatu secara khusus. Menyiapkan sesuatu yang terindah, terbaik, dan paling berharga. Mempersembahkan yang maksimal, bukan cuma yang optimal, apalagi yang minimal.
Oleh karena itu, pantaslah Yesus memuji Maria setinggi langit. Apakah itu karena Maria mempersembahkan sesuatu yang amat mahal? O ya, memang bagitu. Tapi pasti bukan cuma karena itu. Menurut Yohanes, klimaksnya bukanlah ketika minyak narwastu murni dituangkan. Namun ketika Maria “meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya”.
Maria menciptakan ritus baru. Spontanitas cintanya membuatnya tak terikat pada ritus-ritus yang formal. Biasanya, dalam ritus yang formal, yang diurapi adalah kepala. Dalam ritus Maria, ia mulai dengan kaki. Biasanya, dalam ritus yang formal, minyak yang meleleh diseka dengan kain. Dalam ritus Maria, ia menyeka dengan rambutnya.
Artinya apa? Artinya, yang terhina dari Yesus diseka dengan yang termulia pada Maria. Apalagi bila ini bukan penyerahan diri yang paling total? Yang diserahkan bukan saja yang paling mahal, tetapi yang paling mulia: termasuk seluruh kehormatan dan harga diri Maria!
Inilah sikap religius yang paling otentik. Dan ia, alangkah relevannya bagi kita. Yaitu, ketika pada satu pihak, begitu banyak orang mengeluh tak habis mengerti, sebab kita membanggakan diri sebagai masyarakat yang amat religius; namun pada pihak lain, seolah-olah kehidupan dan kenyataan sehari-hari tak terjamah oleh nilai-nilai religi. Ketika pembangunan rumah ibadah dan pengunjung kegiatan-kegiatan ibadah amat menakjubkan secara kuantitatif, namun kehidupan keseharian kita tak sedikit pun mengalami perubahan kualitatif.
Sebabnya ialah, memang tak cukup bila ada pesta khusus untuk Yesus. Sebabnya ialah, memang tak cukup bila banyak orang, seperti Lazarus, “turut makan” bersama Yesus. Sebabnya ialah, memang tak cukup bila banyak orang, seperti Marta, amat aktif dan sibuk “melayani”.
Yang dibutuhkan adalah sikap religius yang otentik seperti Maria. Sikap dan tindakan agamawi yang benar-benar keluar dari hati. Hati yang didesak oleh rasa cinta yang murni. Yang terus diusik untuk mengungkapkan penyerahan diri yang sejati. Sebab itu, bukan cuma tindakan objektif, tapi sesuatu yang amat personal dan subjektif. Tidak cuma sikap formal, tapi sesuatu yang amat eksistensial.
Eka Darmaputera

Responses

  1. Met. Malam & Syalom! Saya senang sekali dengan renungan harian! blh ga minta dikirimin renungan harian ke eamil saya. Slyaloom!

  2. #Charles
    Untuk berlangganan Renungan Harian via email, Anda bisa langsung klik http://www.glorianet.org/rh/e-rh.php3

  3. Renungannya itu dari Yayasan Gloria ya, apakah bebas untuk dicopy atau tidak ya? Kalo ijinnya cuma sebatas sampai blog ini, brarti saya tidak jadi copy deh … atau mungkin bisa bantu menguruskan ijin dengan pihak Gloria?

  4. #wied
    Benar, Renungan Harian di sini berasal dari Yayasan Gloria. Pemuatan di blog ini sudah seijin Redaksi Renungan Harian.
    Bila Anda ingin meminta ijin untuk kepentingan lainnya, langsung saja menghubungi Yayasan Gloria. Mereka sangat kooperatif.

  5. Shalom..! saya sangat diberkati lewat renungan2 ini. boleh tak saya gunakannya masa pertemuan dengan kawan2 di gereja di tempat saya beribadah? Tuhan memberkati

  6. #Helen
    Silahkan pergunakan dan membagi isi blog ini untuk memuliakan nama Tuhan di gereja Anda.
    Salam untuk kawan2 di Malaysia.

  7. Selamat pagi su3in2.
    Terima kasih banyak2..pasti saya akan sampaikan salammu buat teman2 di gereja nanti. Pagi ini saya merenung dan belajar renungan untuk hari ini.. Sungguh, Tuhan adalah sumber ketenangan kita. Puji Tuhan… menjauh daripada-Nya sangat merugikan. Amin.

  8. halu win… makin di berkati aja kau ya…. kapan pulang ke siantar ?? bagi bagi lah tip sukses buat opung icik. fu fu fu fu fu …..

  9. Terima kasih untuk renungan ini, Tuhan kiranya memberkati, sehingga terus-menerus ada kesempatan untuk memberitakan FirmanNya bagi dunia ini.

  10. terima kasih atas renungan ini,,TUHAN YESUS kiranya memberkati kita dalam memberitakan FirmanNya bagi dunia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: