Posted by: gpia | September 6, 2012

Renungan Hari Ini

Jalan Hidup
Kehidupan yang semakin modern, apalagi di kota-kota besar, membuat orang kian sibuk tak alang kepalang. Orang-orang yang kurang berpunya sibuk bergulat dan berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup dari hari ke hari: makan, pakaian, uang sekolah anak-anak, dan kontrak rumah. Sibuk!
Namun, jangan menyangka bahwa yang te¬lah berpunya lalu boleh bersantai-santai. Mereka pun sibuk luar biasa. Sibuk, untuk lebih berpunya lagi. Untuk menjadi lebih besar, mencapai lebih tinggi, dan mempunyai lebih banyak. Sibuk!
Begitu sibuknya, sehingga orang menjadi terlalu sibuk untuk sempat berhenti dan merenung: untuk apa sebenarnya semua kesibukan itu? Kesibukan-kesibukan yang tanpa henti itu, apakah ia sekadar untuk hidup? Atau untuk mencapai sesuatu yang lebih mulia dan lebih bermakna daripada sekadar hidup?
Namun, apakah hidup itu sesungguhnya? Apakah hidup itu ibarat mobil dan kita adalah sopirnya? Sepenuhnya berada di bawah kontrol dan kendali kita. Tergantung pada kita akan kita bawa ke mana?
Ataukah hidup itu adalah laksana mesin raksasa, dan kita ini cuma salah satu sekrupnya? Tak punya kuasa apa-apa atas hidup kita sendiri?
Dan bila kita memang tak punya kuasa apa-apa atas hidup ini, lantas siapakah yang empunya kuasa? Apakah yang berkuasa itu adalah yang kita sebut “nasib”. Bahwa setiap orang telah tertentu “nasib”nya, seperti tampak pada guratan di telapak tangannya? Bahwa si A akan pendek umurnya, karena begitulah guratan usianya? Tetapi si B akan selalu mujur, karena daun telinganya lebar dan ujungnya tertekuk ke dalam?
Benarkah nasib kita ditentukan peredaran bintang-bintang? Sebab itu, C yang berbintang Scorpio sebaiknya jangan memilih D yang berbintang Virgo, sebab pasti tak akan cocok?
Ataukah sebenarnya hidup manusia itu memang tak punya arah, karena tak ada yang mengarahkan? Bahwa semua yang terjadi itu cuma kebetulan-kebetulan, dan kita pun dipontang-pantingkan seperti sabut kelapa di tengah samudera?
Iman kristiani mengatakan bahwa ada yang menguasai dan mengendalikan kehidupan. Oleh karena itu, hidup manusia sesungguhnya tidak seperti sabut kelapa, tetapi seperti kapal yang mempunyai nahkoda. Kapten atau nahkoda kehidupan manusia itu adalah Allah. Tak satu pun kapal berlayar di luar kuasa kendali Sang Nahkoda itu.
Termasuk Raja Cyrus, atau Koresy. Ia memang tak mengenal Allah. Tetapi Alkitab mengatakan, Allah mengenal dia. “Aku memanggil engkau dengan namamu, menggelari engkau. Sekalipun engkau tidak mengenal aku.” Cyrus pasti mempunyai rencana dan ambisi-ambisinya sendiri. Namun Alkitab mengatakan, bahwa Allah, Sang Nahkoda, juga mempunyai rencana untuk dia. “Aku telah mempersenjatai engkau sekalipun engkau tidak mengenal Aku” (bandingkan dengan Yesaya 45:6).
“Sekalipun engkau tidak mengenal Aku,” begitu beberapa kali dikatakan. Sebabnya ialah karena manusia acap kali tidak mengetahui dan tidak menyadari apa rencana Allah atas dirinya. Daud, yang sedang menggembalakan domba-dombanya, pasti tidak menyadari bahwa Allah menetapkan dia untuk menjadi raja. Elisa, seorang petani yang sedang membajak ladangnya, pasti tak mengetahui bahwa Allah memanggil dia sebagai nabi. Kita pun, di tengah kesibukan dan profesi kita, acap kali tak kunjung mengetahui dengan pasti, apakah memang ini yang Dia kehendaki.
Namun demikian, pengetahuan atau kesadaran kita memang tak pernah menentukan. Kita tahu atau tidak tahu, kita sadar atau tidak sadar, Allah punya rencana atas setiap kehidupan kita.
Persoalannya sekarang, bila kita tak mengetahuinya, lalu apa yang mesti kita kerjakan? Dua hal hendak saya kemukakan.
Pertama, kita mungkin tak mengetahui kehendak Allah yang khusus terhadap orang per orang. Namun, kita toh mengetahui apa kehendak Allah yang umum dan yang berlaku bagi setiap orang dan semua orang. Yaitu, Allah menghendaki keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang.
Itu berarti bahwa sekalipun kita tak mengetahui dengan persis apa rencana khusus Allah untuk satu per satu kita, tapi satu per satu kita dituntut untuk mengarahkan dan menyesuaikan kehidupan kita dengan rencana dan kehendak Allah yang umum itu: Mengusahakan keadilan dan kesejahteraan bagi sebanyak mungkin orang. Sebab apa pun rencana khusus Allah itu, apakah
Dia mau supaya kita menjadi menteri atau petani, pendeta atau pengusaha, ibu rumah tangga atau tukang becak, masing-masing peran itu mesti kita laksanakan dan arahkan sesuai dengan rencana umum Allah: Bertindak adil dan mendatangkan sejahtera bagi sesama. Kita tidak tahu persis apa yang Dia kehendaki secara khusus bagi satu per satu kita, tetapi kita tahu persis apa yang tidak Dia kehendaki, yaitu berlaku tidak adil dan merugikan kesejahteraan sesama.
Apakah godaan dan bahaya itu ada? Sayang sekali, jawabnya adalah “ya”. Bayangkanlah bintang-bintang di langit, entah berapa miliar jumlahnya. Semuanya serba bergerak. Mengapa tak terjadi tabrakan? Sebab masing-masing bintang mengikut alur dan jalur yang telah ditetapkan Allah. Melanggar alur itu, akan berarti bencana. Bencana bagi bintang itu sendiri dan bagi yang lain-lain juga.
Sayang sekali, bintang-bintang itu jauh lebih patuh daripada manusia. Manusia mempunyai kemungkinan (bahkan kecenderungan) untuk keluar jalur. Dan memang itulah sebabnya mengapa hidupnya tak pernah bebas dari bencana dan malapetaka.
Kedua, betapa sering kita tidak dapat mengetahui apa yang direncanakan Allah sebelumnya.
Acap kali kita baru mengetahui sesudahnya. Dan betapa sering rencana Tuhan atas kita begitu bertolak belakang dengan rencana kita. Siapa dapat mengatakan bahwa Paulus telah merencanakan menjadi seorang pengabar Injil sejak awalnya?
Rencana Tuhan atas kita tak selalu yang paling enak dan paling ideal menurut ukuran kita.
Namun, betapa pun tak enaknya, bila kita memang yakin bahwa itulah jalan yang mesti kita tempuh, lebih baik ia kita patuhi dan ikuti. Sebab sekali Dia menyatakan kehendak-Nya kepada kita, kita tak punya lagi kemungkinan untuk melarikan diri. Yunus pernah diutus ke Niniwe, tetapi lari ke Tarsis. Akhirnya, melalui pengalaman-pengalaman yang amat dramatis, toh Tuhan membawanya kembali ke Niniwe.
Yesus memberi teladan yang indah mengenai ini. Dia mengetahui apa rencana Tuhan atas diri-Nya. Dia mesti melalui jalan salib. Dia sama sekali tak menyukainya. Namun demikian, Dia tidak melawannya. Dengan taat Dia memasukinya. Bahkan memuliakan Allah di sana.
“Sekarang jiwa-Ku terharu, dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Yohanes 12:27, 28
Eka Darmaputera
Kenapa Sih Gue Nggak Cakep?
“Emang bener, dia kok lebih cakep dari gue. Kenapa sih gue jelek banget? Kenapa sih dia lebih keren”!
Merasa puas dengan penampilan sendiri memang tidak mudah. Ada saja hal yang kita anggap jelek, mulai dari rambut, hidung, dagu, dan seterusnya. Kita sering membandingkan diri dengan orang lain. Hasilnya malah membuat hati semakin panas: rambut si Ani lebih lebat, hidung si Beti lebih mancung dan bibir si Cupi lebih mengundang.
Sebenarnya bagus atau jeleknya penampilan fisik bersifat relatif. Apa yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut orang lain, dan sebaliknya. Nona-nona di sini senang memakai krim pemutih supaya kulit sawo matang berubah menjadi putih atau kuning langsat. Padahal nona-nona di Eropa yang kulitnya putih justru sengaja berjemur dan menggosok tubuh dengan lotion supaya berwarna sawo matang. Di sini wanita takut kegemukan, padahal di kepulauan Pasifik wanita justru saling berlomba untuk menjadi lebih gemuk. Kita ingin gigi tampak putih, padahal di pedalaman Afrika orang sengaja mengunyah akar-akar tertentu supaya gigi menjadi kuning. Yang berambut hitam ingin pirang, yang pirang ingin hitam. Yang pendek ingin jangkung, yang jangkung ingin pendek. Repot!
Bukan hanya dalam hal penampilan fisik kita susah merasa puas, namun juga dalam hal lain. Kita gampang iri: dia lebih populer, dia lebih kaya, dia lebih pandai, dan seterusnya. Akibatnya kita kurang menyukai diri kita. Lama-lama kita mulai membenci diri kita. Kita gelisah terhadap diri sendiri. Kita tidak berdamai dengan diri sendiri. Kalau sudah begitu, bagaimana bisa berdamai dengan orang lain?
Kembali ke penampilan fisik. Seratus orang mempunyai 100 wajah berbeda. Apa jadinya kalau semua wajah sama dan serupa, rata bagaikan tapak setrika? Tiap wajah adalah unik. Unik berarti tersendiri dalam bentuk atau corak sehingga tidak ada ukuran tunggal untuk menentukan bagus atau jelek. Itu berarti bahwa tiap individu mempunyai kebagusan dan kejelekannya sendiri. Tiap individu adalah karya tangan Tuhan yang unik. Karena itu, apa pun rupa penampilan fisik kita, tiap individu berharga di mata Tuhan dan dicintai oleh Tuhan. Mazmur 139:13-14 mengaku:
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; Ajaib apa yang Kaubuat dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Kita dibentuk dan ditenun oleh Tuhan secara mengagumkan. Kalau begitu, bukankah kita juga patut mengagumi dan menerima diri kita sehingga kita merasa damai dengan diri kita?
Apakah berdamai dengan diri sendiri berarti menerima diri secara pasif tanpa keinginan membuat perubahan? Bukan! Kita perlu bertumbuh dan berubah, tentunya ke arah yang bersifat memperbaiki.
Jadi, silakan memperbaiki penampilan fisik jika dibutuhkan. Kalau wajah bisa lebih cerah, mengapa tidak? Rawatlah wajah. Bersihkan pakai cleansing lotion. Lalu gunakan toner. Lalu olesi moisterizer. Kemudian pakai foundation. Sesudah itu baru pakai bedak. Tuh, jadi keren! Yang berikut rawatlah mata. Mata berkerut perlu eye cream. Lalu pakai eye shadow. Tipis-tipis saja, sebab kalau terlalu tebal kelihatannya seperti mata bengkak yang kena tonjok. Kemudian pakai eye liner. Kalau bulu mata belum tampak panjang dan lentik, pakailah mascara. Sekarang alis. Alis juga perlu diperbaiki bentuknya. Pakai eye brow brush. Lalu pakai eye brow pentil. Berikutnya pipi. Pipi diolesi blush on supaya tampak segar. Bibir juga perlu dirawat. Mulailah dengan lip gloss. Lalu pakai lip liner. Sesudah itu baru ambil lip stick. Eh, kok saya jadi genit ngomongin yang ginian?
Berikut adalah tentang tubuh. Menghargai tubuh sebagai ciptaan Tuhan berarti bahwa kita harus menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Ini menyangkut banyak urusan, yang pasti memantau berat badan. Menurut dokter rumus berat badan orang dewasa yang dianjurkan adalah sebagai berikut: tinggi badan – 100 = Y – (10% dari Y] = Z kg. Contoh untuk orang yang tingginya 160 cm adalah: 160 – 100 = 60 -(10% dari 60) = 54 kg. Jarang ada orang dewasa yang bisa konsisten dengan rumus itu, sehingga perbedaan beberapa kilogram masih dinilai wajar, asal saja tidak terlalu over-weight.
Dalam hal ini kita diminta bijak mengatur komposisi dan kombinasi unsur protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air. Maksudnya supaya pola makan kita bijak, mencegah kita menjadi terlalu kurus atau terlalu gemuk.
Soal bagus atau jeleknya adalah relatif. Yang penting kita memelihara diri. Yang lebih penting lagi kita berpikir positif tentang citra diri. Sebuah amsal berbunyi: “Seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia” (Ams. 23:7-a). Artinya: kita ada sebagaimana kita duga. Kalau tiap hari cemberut dan keki karena merasa jelek, akhirnya kita jadi betul-betul jelek. Sebaliknya, kalau tiap hari tersenyum dan happy karena merasa cakep, lama-lama kita jadi betul-betul cakep. Jelek atau cakep bergantung dari citra diri kita sendiri.
Karena itu sebetulnya tiap orang adalah cakep. Kesimpulan: kuning langsat cakep, sawo matang juga cakep. Rambut keriting ayu, rambut lurus juga ayu. Kutilang Darat cantik, Gepe juga cantik. Eh, apaan ‘tuh artinya? Kutilang Darat itu Kurus Tinggi Langsing Dada Rata. Gepe itu Gede Perut, Gede Pinggul, Gede Paha.
Andar Ismail


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: