Posted by: gpia | May 6, 2010

PENGAMPUNAN DAN KEDAMAIAN

Melalui pengorbanan Kristus, masa lalu kita diampuni dan masa depan kita dijamin. Dan, “Sebab itu, kita yang dibenarkan berdasarkan iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah” (Roma 5:1).
Damai sejahtera dengan Allah. Betapa sebuah konsekuensi yang menyenangkan dari iman! Tidak hanya kedamaian antarbangsa, kedamaian antartetangga, atau kedamaian dalam keluarga; keselamatan membawa damai sejahtera dengan Allah.
Suatu kali seorang biarawan dan muridnya bepergian dari biara ke sebuah desa yang terdekat. Keduanya berpisah di gerbang kota, dan sepakat untuk bertemu keesokan paginya setelah menyelesaikan tugas mereka. Sesuai rencana, mereka bertemu dan mulai menempuh perjalanan panjang kembali ke biara. Biarawan itu melihat bahwa pria yang lebih muda itu membisu tidak seperti biasanya. Ia menanyainya apakah ada sesuatu yang salah. “Mengapa kamu?” pertanyaan yang pendek terlontar.
Sekarang biarawan itu yakin bahwa saudaranya ini sedang dalam kesulitan, namun ia tidak mengatakan apaapa. Jarak di antara mereka berdua makin nyata. Murid biarawan itu berjalan perlahan, seolah-olah ingin memisahkan diri dari gurunya. Ketika biara itu mulai terlihat, sang biarawan berhenti di pintu gerbang dan menunggu muridnya. “Ceritakan kepadaku, Nak. Apa yang mengganggu hatimu?”
Anak muda itu mulai bereaksi lagi, namun ketika ia melihat kehangatan dalam mata gurunya, hatinya mulai luluh. “Aku telah berdosa besar,” ia tersedu-sedu. “Tadi malam aku tidur dengan seorang wanita dan mengabaikan sumpahku. Aku tidak layak masuk ke dalam biara bersamamu.”
Sang guru merangkul muridnya dan berkata, “Kita akan masuk ke dalam biara bersama-sama. Dan kita akan masuk ke dalam katedral bersama-sama. Dan bersama-sama kita akan mengakui dosa yang telah engkau lakukan. Selain Allah, tidak akan ada yang tahu siapa di antara kita berdua yang telah jatuh ke dalam dosa.”
Bukankah itu menggambarkan apa yang telah Allah lakukan untuk kita? Pada saat kita menyimpan dosa kita dalam kesenyapan, kita menarik diri dari-Nya. Kita memandang-Nya sebagai seorang musuh. Kita mengambil langkah-langkah untuk menghindari hadirat-Nya. Namun pengakuan dosa kita mengubah persepsi kita. Allah bukan lagi musuh, namun sahabat. Kita hidup dalam damai sejahtera dengan-Nya. Ia melakukan lebih jauh dari yang dilakukan oleh biarawan itu, jauh lebih banyak. Lebih dari sekadar menanggung dosa kita, Yesus “diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya” (Yesaya 53:5). “[Ia] dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita” (Ibrani 12:2). Ia menuntun kita ke dalam hadirat Allah.
Max Lucado


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: