Posted by: gpia | August 26, 2009

Pintu yang Mana?

Pintu masuk menuju rumah besar milik tuan tanah itu sungguh menarik perhatian saya, dan saya merasa bangga setiap kali saya membawa tamu dengan mobil melewati rumah itu. Padang rumputnya dipangkas rapi, sementara bunga-bunga bermekaran pada kedua sisi tangga menuju pintu utama. Kesan pertama begitu penting. Tuhan memberikan kepada kami—sebagai sebuah lembaga misi—kompleks perumahan yang indah dengan gedung besar kuno itu sebagai pusatnya. Pemerintah telah menyatakan gedung itu sebagai salah satu cagar budaya nasional. Tamu-tamu kami pasti akan berdecak kagum setiap kali menunjukkan kepada mereka gedung itu, yang bercat putih bersih dikelilingi pepohonan tua sementara pemandangan mengarah ke danau indah.
Saya senang membawa para tamu dengan cara ini agar mereka bisa melihat segala sesuatu dari segi yang baik lebih dahulu. Namun ada pula beberapa pengunjung yang datang menurut caranya sendiri. Mereka mengendarai mobilnya menaiki bukit lalu berputar melewati bagian belakang gedung. Dari situ mereka mengambil jalan pintas melalui pintu belakang dan sudah berada di gang masuk ketika saya datang untuk menyambut mereka.
Mereka telah memilih jalan masuk dari belakang yang kurang menarik pemandangannya, karena harus melalui WC dan gudang tua. Tetapi apa hendak dikata, mereka sudah tiba di sini meskipun perasaan saya sama sekali tidak enak. Saya merasa malu sebab tidak dapat memberikan kesan yang baik.
Namun hal ini mengingatkan saya kepada Yesus. Dia dilahirkan bukan di kota metropolitan Roma, melainkan di sebuah kandang di kota kecil Betlehem. Dan sebagian besar masa hidup-Nya dihabiskan-Nya di kawasan yang berbeda dengan kawasan yang kita kehendaki. Kita mendambakan agar Dia melewati pintu utama yang megah, di mana kita bisa mengatur segalanya dengan leluasa. Tetapi jalan pikiran kita tidak sama dengan jalan pikiran Tuhan. Tuhan lebih suka mendatangi kita lewat pintu belakang.
Apabila Dia datang, sambutlah Dia, sekalipun Dia masuk lewat pintu belakang. Dia ingin memberikan yang terbaik bagi Anda. Dia datang untuk mendampingi Anda sebagai sahabat. Karena itu sambutlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya, sebab Dia tahu jalan masuk yang paling baik bagi Anda.
Tuhan, Engkaulah tuanku dan Engkau memiliki hak penuh atas hidupku. Karena itu masuklah melalui pintu mana saja yang Kaupilih, sekalipun pintu itu tampak buruk bagiku. Tetapi aku yakin bahwa jalan itu dapat menolongku untuk menjadi seperti-Mu.
Rudi Lack


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: