Posted by: gpia | October 21, 2008

Erwin B. Simanjuntak-Bag. 4: Segala Sesuatu Indah pada waktunya

Saat sedang di puncak karir di Volex, adik saya yang nomer 4 (Ferdinand), lulus SMA dan memutuskan berangkat ke Yogya buat menempuh kuliah. Berarti sudah tiga orang adik saya yang berada di pulau Jawa. Yang nomer dua menempuh kuliah di UGM, yang nomer tiga menempuh kuliah di IPB, dan sekarang Ferdinand juga ikut ke Yogya. Dengan Ferdinand siap masuk kuliah, mau engga mau budget expense bulanan saya tentu bertambah lagi sekitar 30%. Beda umur saya dengan adik yang nomer dua sekitar 4 tahun, jadi saat di tahun 2002 itu Ferdinand masuk kuliah, adik saya yang nomer dua masih belum bekerja. Otomatis masih saya sendiri yang sudah produktif di keluarga kami buat sokong biaya sekolah sekeluarga.

Sebagaimana perusahaan manufacturing pada umumnya, tentu kenaikan gaji tahunan ada di average 15%, maksimal 20%. Jadi kalau mau kenaikan 30%, saya mau gak mau kembali cari-cari kerjaan baru, plus dengan tambahan niat pindah ke Jakarta. Dengan berada di Jakarta, saya bisa lebih dekat dengan ketiga adik-adik saya, sehingga kalau ada apa-apa saya bisa lebih gampang aksesnya.

Beruntung sekali salah seorang teman saya di Jakarta, tepatnya di perusahaan engineering (Ceria Worley), memberitahukan bahwa mereka sedang cari seorang Snr. QA Engineer. Saya memutuskan mengajukan lamaran dan setelah melalui proses seleksi dan interview, saya akhirnya diterima. Ini termasuk keberuntungan juga, soalnya saya sama sekali engga ada background oil and gas sebelumnya. Padahal perusahaan engineering oil and gas seperti Ceria Worley biasanya meminta persyaratan background experience sejenis. Untungnya, saya berhasil meyakinkan interviewer (termasuk GM) bahwa prinsip QA itu pada dasarnya sama. Selain itu, pengalaman saya (khususnya dengan embel-embel international) dalam proses sertifikasi ISO 9001:2000 menjadi nilai plus karena Ceria Worley sedang dalam proses upgrade sertifikasi ISO 9001 mereka dari versi 1994 ke versi 2000.

Dari segi posisi, mungkin ada kemunduran karena dari posisi Dept. Head saya kembali menjadi engineer. Tapi buat saya hal ini tidak masalah, karena selain saya punya kesempatan untuk bekerja di dunia yang baru buat saya yaitu engineering oil and gas , dari sisi penghasilan saya juga berhasil mendapatkan tambahan 30% (take home pay) seperti yang saya inginkan. Selain itu, target saya untuk pindah ke Jakarta juga tercapai.

Saya mengajukan surat resign ke Volex tidak berapa lama setelah selesainya seluruh proyek sertifikasi ISO. GM dan Direktur kaget dan berusaha merubah keputusan saya. Tapi saya selalu berprinsip bahwa sekali sudah memutuskan pindah dan berkomitment dengan calon employer baru, saya tidak akan pernah berubah pikiran. Saya harus respect terhadap komitment yang sudah saya ambil.

Sebelum pergi, saya sempat buat kuesioner dan bagi-bagikan ke anak buah buat diisi secara anonym. Dari feedback mereka saya sadar bahwa sebagai atasan saya ternyata masuk kategori ‘berhasil’. Semua feedback mereka bilang “Jangan pergi, pak”; dan memberi rating tinggi untuk semua item penilaian. Beberapa malah sampai menangis saat ‘last day’ saya. Semua feedback mereka masih saya simpan sampai sekarang dan kepuasan professional yang saya rasakan tidak pernah saya lupakan.

Demikianlah, kira-kira bulan Oktober 2002 saya pindah ke Jakarta dan mulai bekerja di Ceria Worley. Dalam beberapa bulan berikutnya, saya berhasil membantu Ceria Worley untuk upgrade sertifikat ISO-nya ke versi 2000. Selama dalam proses, saya juga berhasil menambah kompetensi karena diikutkan pelatihan Lead Auditor oleh Ceria Worley.

Kebetulan yang mengaudit Ceria Worley saat itu adalah satu badan sertifikasi ternama, LRQA. Sejak lama saya sudah ada niat juga ingin jadi auditor external di badan sertifikasi. Kayaknya enak banget hidupnya, jalan-jalan melulu, dijamu klient dan sebagainya. Selain itu, kalau mau dapatkan registrasi internasional sebagai Lead Auditor Manajemen Mutu, jalan tercepat adalah dengan menjadi auditor external di badan sertifikasi.

Pucuk dicinta ulam tiba, selama proses audit itu kelihatannya Lead Auditor LRQA tertarik dengan kemampuan saya. Salah satu alasannya katanya karena dia melihat saya fasih berdialog dengan expatriate, sementara klientnya LRQA Indonesia banyak perusahaan multinasional. Karenanya, kemampuan melakukan audit dalam Bahasa Inggris sangat dibutuhkan. Tambahan plus lainnya, karena di CV saya LRQA melihat embel-embel ‘international experience’ . Benar khan kata saya dulu, bahwa embel-embel ini menjadi faktor penting dalam karir saya berikutnya.

Akhirnya, bulan Oktober 2003 saya ‘dibajak’ LRQA. Saya masih ingat waktu GM saya yang baik itu bertanya apakah saya masih bisa berubah pikiran. Seperti biasa saya selalu bilang ‘Sorry, I have made up my mind’. Tapi pertanyaan berikutnya dari beliau yaitu ‘Will you consider to come back to this company once you have achieved your objective in LRQA?’ , saya jawab pasti dengan : YES.

Dari dulu memang saya selalu berprinsip menjaga hubungan baik dengan ex-employer. Tidak pernah sekalipun saya menjelek2kan employer saya sebelumnya. Malah kalau ada orang lain yang kebetulan butuh jasa /produk sejenis, saya suka merekomendasikan perusahaan sebelumnya. Misalnya kalau ada yang nanya IC assembly, saya pasti bilang AIT is the best. Kalau ada yang nanya badan sertifikasi, saya pasti bilang LRQA is the best meski saya sudah tidak bekerja lagi di perusahaan-perusahaan itu.

Prinsip saya, sejelek-jeleknya perusahaan tempat kita bekerja, ‘periuk nasi’ kita adalah dari perusahaan, dan perusahaan sudah berperan dalam menghidupi diri sendiri serta orang-orang yang kita kasihi. Jadi, kenapa harus menjelek-jelekkan perusahaan? Pindah kerjapun saya tidak pernah dengan alasan ketidak puasan atas perusahaan sebelumnya.

Saya bekerja di LRQA kira-kira dari tahun 2003 sampai April 2006. Awalnya memang asyik banyak jalan2 keliling Indonesia plus dijamu client (sampai berat saya mencapai 102 kg, maklumlah saya ini doyan makan..hehe). Tapi lama-lama capek juga rasanya travelling dan menjalani kehidupan sebagai external auditor itu. Apalagi di tahun 2004, objective saya untuk menjadi international registered Lead Auditor (di IRCA) sudah tercapai. Sekaligus waktu itu saya menjadi Lead Auditor (IRCA registered) termuda di seluruh LRQA. Jika Lead Auditor LRQA lainnya pada umumnya berusia rata-rata di atas 30 tahun, saat saya mencapai itu usia saya baru 28 tahun. Setealh 3 tahun, saya sudah jadi capek, plus sudah ada niatan mau settle dan menikah. Kasihan khan istri saya nanti kalo sering ditinggal-tinggal.

Walhasil, saat di awal tahun 2006 saya diberitahu teman bahwa Ceria Worley (yang segera akan berubah nama menjadi WorleyParsons Indonesia—WPI) sedang cari Quality Manager, saya langsung bilang berminat. GM saya yang dulu nanya apakah saya mau kembali, langsung menelpon begitu dia tahu saya berminat. Tidak berapa lama, setelah lewat interview dengan Quality Director WorleyParsons (Worldwide), akhirnya saya dapat offer dari WPI dan akhirnya awal Mei 2006 saya pindah dari LRQA ke WPI.

Saat masuk WPI, saya menjadi Location Quality Manager termuda di seluruh Asia Australia. Saat itu usia saya sudah 30 tahun, tapi Location QM lainnya rata-rata sudah berusia 35 tahun ke atas. Kembali, ini kasus eksepsional juga yang saya percaya tidak akan tercapai kalau bukan karena campur tangan Yang Maha Kuasa. Soalnya, di industri oil and gas, biasanya persyaratan untuk jadi manager sangat spesifik dalam hal masa kerja (working experience). Umumnya harus minimal 10 tahun dibidang yang sama. Padahal, saat saya diterima jadi QM di WPI, total pengalaman kerja saya baru sekitar 7 tahun dan paling baru sekitar 2 tahun diantaranya yang dihabiskan di industri yang sama.

Di WPI saya melihat kesempatan permanent assignment untuk Go International sangat terbuka. Apalagi di posisi saya, saya punya kesempatan untuk ‘teramati’ dan menjalin network dengan key positions di WorleyParsons Worldwide. Tambahan lagi, GM saya kemudian promosi menjadi Direktur Regional South East Asia. Tidak berapa lama, karena saya langsung terlibat dalam roll out management system baru di seluruh South East Asia, nama saya segera masuk radar orang-orang penting seperti Direktur Regional South East Asia (yang notabene sudah kenal saya lama dan malah yang merekrut saya jadi QM di WPI), Direktur HR Regional WP, Direktur Quality WP (Worldwide) plus Regional QM – SEA. Hal ini ternyata menjadi asset yang sangat menguntungkan saat saya berhasil membantu WPI mengimplementasikan system management yang baru, plus membantu Direktur Quality untuk roll out system serupa di Brunei Darussalam.

Akhirnya, pencapaian ini juga yang akhirnya membawa saya ke Kanada. Kebetulan system ini akan segera di roll out di Kanada. WorleyParsons di Kanada sangat besar, dengan jumlah total karyawan sekitar 9000-an orang dan sekitar 10-an kantor operasi yang tersebar di seluruh Kanada. Jadi, saat mereka ingin roll out system ini dan kebetulan Direktur Quality tahu bahwa saya berminat bekerja di luar negeri, kembali factor ‘pucuk dicita ulam tiba’ terjadi. Setelah melalui berbagai proses interview, akhirnya saya diberikan offer yang sesuai keinginan saya.

Dan inilah saya hari ini, mulai meniti jalan mencari nafkah di negeri orang. Saat melihat ke belakang terhadap lika liku karir saya, saya tidak pernah berhenti bersyukur atas semua yang sudah saya capai sejauh ini. Saya suka berpikir bahwa saya ini sering dapat keberuntungan sepanjang perjalanan karir saya. Tapi saya tahu bukan keberuntungan yang membawa saya mencapainya, tapi di atas semua itu adalah kerja keras dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan saya, plus tentu saja doa-doa kepada Tuhan (termasuk yang saya yakin disumbangkan pula oleh orang-orang yang saya kasihi).

Sebagai penutup, saya kutip beberapa kata-kata indah yang saya temukan dalam Kitab Suci di agama saya dan yang selama ini menjadi pegangan saya : “Jangan kuatir akan hidupmu”; “Lakukanlah segala sesuatu dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan”, dan yang terakhir “Mintalah kepada Bapamu di Surga, maka akan diberikan kepadamu”. Inilah pegangan saya dalam menjalani hidup.

Demikian sekelumit penggalan kisah dari hidup saya…semoga sharing ini ada manfaatnya buat yang membaca dan sampai jumpa di kisah-kisah berikutnya…


Responses

  1. great story mas, mudah2an bisa menular kesaya ya yg sedang merintis menjadi qms LA…salam kenal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: