Posted by: gpia | October 21, 2008

Erwin B. Simanjuntak-Bag. 3: Semuanya melalui proses

Kalau saya flash back perjalanan karir saya, saya yakin memang sudah diatur Yang Maha Kuasa sehingga jalannya seperti yang saya alami sekarang. Mungkin kalau saya dulu ngotot berpindah karir, bisa jadi karir saya masih begitu-begitu saja.

Saya lulus sebagai Chemical Engineer dari Teknik Kimia ITB, tetapi sejak pertama kerja saya tidak pernah menjadi process engineer atau sejenisnya. Sejak pekerjaan pertama, saya sudah ditugaskan menangani urusan quality. Awalnya sebagai QA Assembly Engineer di perusahaan semikonduktor di Batam. Awalnya perusahaan ini anak perusahaan Astra (namanya AMT-Astra Microtronics Technology), dan saya masuk sebagai rekrutan Astra lewat AMDI di Sunter. Kira-kira setahun kemudian, perusahaan dijual Astra dan berganti nama menjadi Advanced Microtronics Technology, lalu kemudian berubah nama lagi menjadi Advanced Interconnect Technologies (AIT). Terakhir saya dengar namanya menjadi UNISEM.

Terus terang, awal kerja saya dipenuhi idealisme untuk menerapkan ilmu yang saya peroleh dari bangku kuliah. Makanya, tahun pertama jadi QA Assembly Engineer (grade 6) saya udah nggak betah. Saya sempat mengajukan internal posting ke Departemen Moulding untuk jadi process engineer, karena menurut saya sebagai orang Teknik Kimia (TK), saya lebih cocok jadi process engineer. Departemen Head QA sudah setuju, Department Head Moulding sudah setuju, HRD sudah setuju, eeeh…tiba-tiba proses di-‘intercept’ oleh Direktur saya, Direktur Quality yang kebetulan sangat powerful di perusahaan. Begitu beliau bilang tidak, selesailah sudah. Tidak ada yang berani meneruskan proses kepindahan saya ke Dept Moulding.

Akhirnya, saya jalanilah posisi sebagai QA Assembly Engineer sampai akhirnya naik ke grade 7 kira-kira 2 tahun berikutnya. Harus saya akui, pengembangan kompetensi saya di bidang QA banyak sekali saya dapatkan selama di AIT.

In between, karena masih bergelora idealisme untuk jadi process engineer, saya sempat juga ikutan proses seleksi BP sampai ke Surabaya. Dari 300an orang (yang rata-rata fresh grad), waktu itu saya termasuk diantara 17 orang yang lulus tahap test selama seharian penuh, dilanjutkan interview HR. Saya dijanjikan akan dipanggil buat interview user kira-kira seminggu atau dua minggu berikutnya.

Terus terang, saya sempat senang banget dan sudah kebayang akhirnya bisa jadi process engineer, di BP pula..!! Tetapi memang tidak jodoh, jalan Tuhan lain dengan rencana saya. Saat saya diberitahu jadwal interview user, ternyata pas harinya dengan saya harus tugas Koor buat perayaan salah satu hari besar di agama saya. Tugas koor ini sudah dipersiapkan dari jauh hari, dan berhubung suara Bass cuma 2 orang, jika saya tidak ikutan pasti jadi timpang.

Saya sudah sempat mau maksa diri pergi ke Jawa buat interview user, tetapi sebelum ambil keputusan saya sempat diskusi dulu dengan atasan saya. Beliau notabene seorang Muslim yang taat, tetapi kata-kata beliau malah telak sekali menyadarkan saya (yang menyebut diri Kristen) bahwa tidak sepantasnya saya menomorduakan sesuatu yang untuk Tuhan, dibandingkan sesuatu yang untuk saya pribadi. Saya masih ingat bahwa beliau bilang : “Mungkin Tuhan sedang menguji keteguhan imanmu, apakah kau akan tetap percaya bahwa dibalik kemungkinan kegagalan ini Dia sebenarnya mempersiapan sesuatu yang lebih baik buatmu”. Saya sempat juga mengirim email minta perubahan jadwal, tetapi tidak pernah direspond dan akhirnya saya memang tidak jadi berangkat. Saya memilih ikutan koor.

Tidak berapa lama setelah kegagalan ikut interview BP (kira-kira 6 bulan berikutnya), saya mendapatkan tawaran menjadi QA Department Head di sebuah perusahaan electronic yang manufacturing site-nya di Batam lebih kecil daripada AIT. Waktu itu (2001) AIT sedang rada krisis dan katanya kenaikan gaji bakal di-freeze sampai kira-kira 2003. Padahal adik saya yang nomer 3 (Imelda) sudah harus masuk kuliah yang berarti penambahan expense bulanan saya s/d kira-kira 20-30%. Jadi, dengan sedikit nekad, saya terima tawaran itu, yang memungkinkan saya mendapatkan kenaikan gaji bulanan hingga 30% dibanding waktu saya di AIT. Akhirnya saya pindah ke perusahaan itu, namanya Volex Batam di daerah Sekupang.

Yang pasti, saya sedikit shock disodori fakta bahwa dari yang tadinya tidak pernah punya anak buah, tiba-tiba saya punya sekitar 45-an anak buah yang kira-kira 90% lebih tua daripada saya. Kebanyakan sudah berumah tangga pula, dan beberapa dari antara mereka layak saya panggil Bapak/Ibu.

Awalnya tentu saja benar-benar penuh masa sulit. Saya terus terang mendapat resistensi, bukan hanya dari anak buah, tetapi dari Departemen Manager lainnya. Dua diantara mereka expatriate dan lainnya semua lebih tua daripada saya. Minggu-minggu pertama masuk saja saya sudah dihantam 10 customer complaint yang harus ditindak lanjuti segera, padahal saya masih awam dengan proses di Volex. Selain itu, saya sudah terbiasa dengan semua kenyamanan dan keteraturan saat di AIT, sementara di Volex awalnya tidak saya dapatkan seperti itu. Yang paling sederhana, di AIT makan siang ditanggung perusahaan (ada kantin khusus, cukup pake kupon). Di Volex, saya harus beli atau bawa makan sendiri. Beberapa teman-teman sekerja dan anak buah sendiri malah awalnya suka rada ‘nyindir’ dengan bilang: kok bisa-bisanya orang pindah dari AIT ke Volex, padahal orang lain berlomba2 masuk AIT (buat yang tinggal di Batam masa-masa 1998 s/d 2002, tentu sependapat dengan mereka).

Masa-masa yang berat di awal masuk Volex dan pengalaman-pengalaman selanjutnya ternyata adalah masa paling berharga dalam pengembangan karir saya sebagai Quality professional. Kalau di AIT saya dapat banyak ‘knowledge’-nya, maka di Volex saya benar-benar dapat pengalaman aplikasinya, plus pengalaman bagaimana memimpin orang. Di Volex selain harus ‘ngemong’ 45 anak buah, saya harus menghadapi paling sedikit 30-an external audit setiap tahun (Parent company, Customers, product safety, ISO certification, dsb). Di Volex pula untuk pertama kali saya dapat kesempatan melanglang Asia dalam kapasitas bekerja, bukan jalan-jalan. Saya masih ingat persis bagaimana di suatu sore (hari Minggu) saya ditelpon langsung oleh Quality Director – Volex Asia, dan ditantang menjadi Project Manager/Group Consultant untuk proses sertifikasi ISO 9001:2000/14001 di manufacturing sites kami di Thailand, Vietnam dan India. Ini setelah saya berhasil membawa Volex Batam diupgrade sertifikasinya dari ISO versi 1994 ke ISO 9001:2000, dan aktif terlibat dalam proses sertifikasi ISO 14001 di AIT dulu. Saya dengan mantap menerima tantangan itu, dan dimulailah perjalanan berkali-kali ke Thailand, India dan Vietnam. Semua manufacturing sites itu pada akhirnya sukses mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2000 plus ISO 14001:1996. Yang ngaudit bukan sembarangan badan sertifikasi, tapi badan sertifikasi langsung (dan asli) dari Inggris, plus auditor (asli) dari Inggris pula.

Ada suatu kebanggaan dan kepuasan profesional tersendiri saat itu, kepuasan yang melebihi imbalan kebendaan atau duit. Apalagi saat melihat bagaimana Managing Director Volex Asia mengirimkan ucapan selamat via email. Saya sendiri terus terang tidak pernah bermimpi bahwa seorang Indonesia seperti saya, kelahiran kota kecil Pematang Siantar nun jauh di Sumatera Utara sana, bisa memimpin dan membimbing ‘bangsa lain’ mencapai sesuatu yang diakui secara internasional.

Tidak mungkin kalau bukan karena Tuhan memang sudah merencanakan semuanya di dalam hidup saya dan berkenan menjadikannya begitu. Pasti Dia yang dulu telah menggerakkan hati saya untuk memilih bekerja di Batam daripada menerima tawaran kerja di Jakarta, pasti Dia pula yang menggerakkan hati saya untuk memutuskan pindah ke Volex dan inilah jalan yang diberikanNya. Mungkin kalau dulu saya memilih ke BP, bisa jadi sampai dua tiga tahun berikutnya saya masih jadi field process engineer nun jauh di tengah laut. Saya tidak bilang field engineer suatu profesi yang tidak baik (uangnya pasti banyak..hehe), tapi dalam konteks pribadi, ternyata dengan memilih jalan lain dalam setahun sejak pindah dari AIT, saya sudah jadi seorang Dept Head dengan pengalaman karir internasional. Dan terus terang, kata-kata ‘international experience’ di CV saya ternyata sangat berharga dalam proses kelanjutan karir saya berikutnya.


Responses

  1. Kalo seorang manager di volex belomlah hebat
    karena standard kerja divolex rendah, rendahhhhhhhhhhhh sekali

  2. SIIPPP..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: