Posted by: gpia | October 21, 2008

Erwin B. Simanjuntak-Bag. 2: Bekerja di negeri orang

Tinggal menghitung hari…tepatnya tanggal 14 Juli saya akan berangkat ke Kanada, untuk memulai babak baru dalam karir saya, yaitu bekerja di negeri orang, nun jauh di sebuah kota bernama Edmonton, Canada.

Saat semuanya ini masih belum terwujud-bahkan saat sudah terwujud tetapi masih lama hari keberangkatannya-saya begitu ‘excited’ untuk menjalaninya. Tetapi sekarang, menjelang keberangkatan, berbagai rasa campur aduk menjadi satu. Ada rasa sedih, karena saya harus meninggalkan istri dan bayi kami yang baru berusia 1 bulan, untuk setidaknya enam bulan ke depan, sampai si bayi cukup sehat dan mendapatkan ‘restu’ dokter anak untuk menempuh perjalanan panjang lewat udara.

Ada pula rasa khawatir dan (sedikit) takut… Khawatir nanti tidak bisa adaptasi, khawatir nanti tidak bisa menunjukkan kinerja sesuai harapan, takut gak bisa gaul dengan orang-orang asing di sana, takut gak dapat temen orang Indonesia, dan berbagai kekhawatiran dan ketakutan lainnya.

Rasa ‘excited’ dan keingintahuan tentu tetap ada, meski akhir-akhir ini porsinya kalah dominan dibanding rasa sedih dan khawatir yang saya sebutkan di atas.

Apapun itu, saya tahu ini satu pilihan yang sudah saya ambil dan karenanya harus saya jalani apapun konsekwensinya. Sebelum pilihan ini saya ambil, sudah saya pertimbangkan matang-matang antara faktor manfaat dengan segala konsekwensinya. Berhubung peluang ini datang di bulan Maret 2008 saat usia kehamilan istri saya memasuki bulan ke-6 , saya tidak mungkin segera berangkat saat itu juga. Meski awalnya perusahaan yang akan mempekerjakan saya di Edmonton butuh saya segera tiba di awal Mei 2008, syukurlah mereka bisa mengerti kebutuhan saya untuk mendampingi istri saat persalinan dan minimal sebulan sesudahnya.

Terus terang, saat proses interview dan negosiasi-negosiasi sesudahnya, saya sudah merasakan kesan yang sangat baik dari perwakilan perusahaan di Kanada. Saya benar-benar merasa di-manusiakan, mereka mau mendengar dan mengerti aspek kebutuhan saya sebagai manusia, bukan semata memandang dan memperlakukan saya sebagai ‘pekerja’. Padahal mereka bisa saja dengan gampang mengatakan ‘take it or leave it’, berhubung profesi saya bukan sesuatu yang super specific dimana hanya segelintir orang di dunia yang bisa mengerjakannya.

Tetapi dengan approach seperti itu saya justru merasakan semacam ‘hutang budi’ yang dengan sepenuh hati akan saya balaskan lewat kinerja dan produktifitas buat perusahaan. Apalagi ditambah dengan fakta, bahwa tanpa saya minta mereka mengajukan bantuan untuk percepatan proses permanent resident (tinggal tetap) di Kanada lewat mekanisme yang disebut ‘provincial nomination’. Ini cuma karena saat interview saya mengungkapkan aspirasi untuk tinggal lama dan mendapatkan status tinggal tetap di Kanada. Umumnya proses ini mewajibkan pemohon untuk tinggal 2 sampai 3 tahun di Kanada, tetapi menurut perwakilan perusahaan di Kanada, dengan program provincial nomination, saya bisa mendapatkan status permanent resident hanya dalam waktu 1 tahun.

Hal utama yang mendorong saya mengambil pilihan ini dengan segala konsekwensinya cuma satu, yaitu keluarga. Baik keluarga kecil saya yang baru saya bentuk hampir setahun yang lalu dan kini ditambah dengan kehadiran seorang bayi perempuan, maupun dengan anggota keluarga saya lainnya, terutama adik-adik saya yang masih banyak butuh biaya. Dengan mengukur seberapa besar kemungkinan saving yang bisa didapatkan jika bekerja di sana, saya bisa memastikan jaminan masa depan yang lebih baik buat anak dan istri, plus adik-adik saya yang masih butuh biaya buat sekolah. Jika kelak mendapatkan status tinggal tetap di Kanada, saya tentu tidak perlu terlalu khawatir soal pendidikan buat anak saya. Belum lagi kemudahan jaminan kesehatan yang disediakan pemerintah Kanada. Pendidikan dan jaminan kesehatan adalah dua hal yang sekarang ini menjadi mahal harganya di negara sendiri, Indonesia. Saya tidak perlu khawatir harus menyiapkan segepok uang atau jaminan terlebih dahulu jika anak sakit dan harus masuk rumah sakit. Saya tidak perlu berdebar-debar memikirkan uang sekolah setiap bulan, uang pembangunan, daftar ulang, uang buku dan segala jenis biaya lainnya setiap tahun ajaran baru, dan uang pendaftaran sekolah di setiap jenjang masa pendidikan. Dengan menjadi pembayar pajak di Kanada, saya akan mendapatkan semua ‘kemewahan’ itu, yang sejauh ini belum mungkin saya dapatkan sebagai pembayar pajak di Indonesia.

Jadi, meski harus mengalami pisah sementara dengan anak istri, meski harus mengalami kemungkinan ‘kejutan budaya’, ‘kejutan iklim’, dan ‘kejutan-kejutan’ lainnya di Kanada, plus ekspektasi yang tentu lebih tinggi buat pekerja migran, saya memantapkan hati mengambil pilihan ini. Saya percaya bahwa Tuhan akan membantu saya melalui semua hambatan dengan baik, asalkan saya melakukan semuanya dengan sepenuh hati seperti melakukan untuk Dia. Dan pada akhirnya, saya yakin bahwa Dia akan membantu membuat ini semua menjadi sesuatu yang baik buat keluarga dan orang-orang yang saya cintai.

Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Edmonton akhirnya berujung pada tanggal 14 Juli 2008 jam 20.10 waktu Edmonton. Saya berangkat jam 08.40 pagi dari Jakarta di tanggal yang sama, dan setelah menempuh kira-kira 24 jam perjalanan (termasuk total sekitar 6 jam transit di Hongkong dan Vancouver) , mendarat di kota ini masih di tanggal yang sama. (Jakarta saat itu tentu sudah tanggal 15 Juli 2008, kira-kira jam 7.20 pagi).

Akhir perjalanan ini sekaligus awal dari babak baru dalam perjalanan karir saya, yaitu bekerja penuh waktu di negeri orang. Saya sekarang menjadi salah satu dari ribuan TKI yang tersebar di seluruh dunia. Sejak lama, keinginan untuk merasakan hidup di negeri orang (entah bekerja atau melanjutkan sekolah) sudah jadi salah satu target dalam hidup saya. Terlebih sejak saya mulai mengenal ‘dunia lain’ itu sepanjang perjalanan karir saya selama ini.

Meski kedengarannya klise, tapi benar saya alami sendiri apa yang saya percaya selama ini bahwa : semua akan indah pada waktunya. Sebelum akhirnya saya mendarat jadi TKI di negeri orang, entah sudah berapa kali saya ‘nyaris’ sampai di sana, tetapi selalu saja ada halangannya.

Waktu pertama lulus saja, dosen pembimbing penelitian saya waktu itu memberi tawaran melanjutkan sekolah ke TU Delft di Belanda. Tapi berhubung saya harus secepatnya ‘menghasilkan duit’ supaya bisa mensupport sekolah adik-adik saya, tawaran itu tidak pernah saya pertimbangkan. Saya memutuskan untuk segera mencari kerja.

Beberapa tahun kemudian, datang lagi kesempatan kedua. Waktu itu (kira-kira tahun 2003) saya ikutan proses seleksi beasiswa British Council. Meskipun dengan modal nekat (saya gak pernah ikutan kursus Inggris apapun sebelumnya, apalagi punya sertifikat TOEFL), saya tanpa diduga2 lulus semua tahapan test sampai akhirnya tinggal tahap interview terakhir.

Waktu itu saya sudah sempat menduga, inilah ‘waktu yang indah’ itu. Tapi menjelang interview terakhir, saya telponan dengan Mamaku. Saya ceritakan mengenai ini dan minta doanya, eh dari nada suaranya kelihatannya Mamaku kurang setuju. Pertimbangannya karena adikku nomer 2 ( namanya May), belum lulus kuliah. Jadi kalau saya pergi ke Inggris (yang berarti tidak berpenghasilan), siapa nanti yang support keluarga? Saya jadi kepikiran karena kata-kata Mamaku.

Akhirnya pas interview terakhir dengan user, saat diberikan kesempatan bertanya saya coba nanya apakah seandainya terpilih bisa minta pengunduran paling tidak setahun? Si interviewer mencoba menjawab diplomatis, tapi intinya adalah TIDAK BISA, karena peminat program ini banyak. Mereka harus memilih berdasarkan urutan prioritas, kalau saya minta pengunduran berarti ini bukan prioritas saya. Keluar dari ruang interview, saya sudah punya perasaan gak enak soal ini. Dan ternyata benar, seminggu kemudian saya terima surat yang menyatakan bahwa saya belum beruntung.

Tapi saya tetap optimis bahwa ‘semuanya indah pada waktunya’. Dua tahun berikutnya saya sempat coba lagi ikutan Britis Council, tapi kali ini dipanggil test pun tidak. Padahal katanya kalau sudah pernah lulus test, pasti dipanggil lagi jika kembali mendaftar. Entahlah, memang bukan rejeki kayaknya ..hehehe.

Tahun 2007 benar-benar tahun di mana kesempatan hidup di negeri orang muncul berkali-kali. Tapi kali ini adalah dalam bentuk kesempatan untuk bekerja (baca : jadi TKI), bukan buat sekolah. Saya pernah dapat telpon penawaran kerja di Malacca, tapi setelah ngomong-ngomong soal gaji malah engga ada kabarnya lagi sampai sekarang. Pernah juga interview beberapa kali dengan kantor perusahaan di Brisbane, tapi mentah lagi juga setelah saya kasih tahu ekspektasi gaji. Mungkin mereka pikir karena TKI harusnya mau dibayar murah.

Tetapi kalau saya ingat-ingat, dengan berdatangannya berbagai kesempatan di tahun 2007 itu , sekaligus menjadi pertanda bahwa ‘waktu yang indah’ itu sudah dekat. Akhirnya di awal 2008, saya dapat info bahwa kantor perusahaan kami (WorleyParsons) di Kanada mungkin butuh kompetensi yang saya miliki. Sayapun segera mengajukan lamaran, setelah memberitahu Boss saya bahwa saya berminat ‘di transfer’ ke kantor lain.

Setelah melalui berbagai tahapan interview (dilakukan jam 10.00 malam waktu Depok, maklumlah kita beda waktu ), akhirnya di pertengahan Februari 2008 saya mendapatkan yang namanya ‘ offering letter’ alias surat penawaran kerja. Gemetar juga saya waktu baca surat penawaran kerja ini, apalagi pengen tahu apakah ekspektasi gaji dan benefit yang saya minta dipenuhi. Ternyata, Puji Tuhan Halleluya……memang kalau rejeki akan dapat juga, semua sesuai keinginan saya, malah dalam beberapa hal melebihi.

Meskipun sudah dapat surat penawaran kerja dan sudah saya tandatangani, tetapi proses belum selesai. Waktunya ternyata belum benar-benar indah. Saat itu istri saya sedang hamil dan ternyata tidak diperbolehkan ‘terbang’ jauh ke Edmonton, Kanada. Plus karena dalam kondisi hamil maka tidak diperbolehkan ikut pemeriksaan kesehatan yang diwajibkan kedutaan Kanada untuk semua orang yang akan tinggal di Kanada lebih dari 6 bulan. Selain itu, saya masih harus berjuang memenangkan ‘perang’ diplomasi dengan Boss saya di Indonesia yang kelihatannya ‘berat’ melepas. Belum lagi harus cari pengganti di Indonesia dan melakukan proses ‘hand-over’.

Akhirnya dengan sedikit takut-takut, saya minta pengunduran jadwal. Saya harusnya sudah mendarat di Kanada awal April 2008. Tetapi sehubungan dengan berbagi hal yang saya sebutkan di atas, mau gak mau saya harus memberanikan diri meminta pengunduran.

Saya sempat takut bahwa akhirnya peluang ini akan lepas karena pengunduran jadwal yang saya minta, sementara kantor di Kanada sudah jelas-jelas bilang mereka butuh segera. Tapi akhirnya saya kembali pada prinsip awal yang saya percayai (baca lagi di atas, jangan bosan-bosan dengan kata-kata klise itu..hehehe…). Saya pun menetapkan hati dan mengajukan pengunduran jadwal kepada calon ‘employer’ saya di Kanada.

Di luar dugaan saya, calon employer saya di Kanada ternyata sangat pengertian. Mereka bisa saja dengan mudah bilang ‘take it or leave it’, tetapi sebaliknya mereka malah sangat mendukung pentingnya saya hadir menemani istri saat melahirkan dan beberapa saat sesudahnya. Lega rasanya hati ini saat mendapatkan persetujuan pengunduran jadwal keberangkatan ke bulan Juli 2008.

Saya secepatnya memulai proses pengurusan izin kerja, soalnya kata teman-teman bisa makan waktu antara 3 minggu sampai 1 bulan. Untuk kasus saya, mungkin karena merupakan transfer ke group perusahaan yang sama, prosesnya lumayan cepat. Saya hitung-hitung sejak saat masukin dokumen sampai keluarnya visa kerja, cuma makan waktu sekitar 2 minggu.

Proses yang makan waktu lebih lama ternyata proses mencari pengganti (sedikit ironis juga, padahal katanya di Indonesia banyak sekali pencari kerja). Dari sekian banyak CV yang masuk, hanya ada sekitar 6 orang yang dianggap layak buat interview (setelah kira-kira 1,5 bulan proses cari CV !!). Selanjutnya proses interview yang makan waktu kira-kira 2 minggu. Dari 6 yang diinterview, 4 dikategorikan ‘waste of time’ oleh Boss saya di Regional. Hanya dua orang yang dikategorikan boleh dipertimbangkan. Milih satu dari antara dua juga proses yang panjang, kira-kira 2 minggu, belum lagi offering, mobilisasi, dan hand-over.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: