Posted by: gpia | October 21, 2008

Erwin B. Simanjuntak-Bag. 1: Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin..

Erwin Baja Simanjuntak, orang muda dari sebuah keluarga sederhana di Pematang Siantar dan sekarang tinggal di Edmonton, Alberta, Canada. Melalui blog pribadinya (erwinbaja.wordpress.com) Erwin berbagi pengalaman hidupnya mulai dari lulus SMA hingga mencapai cita-citanya. Sebagai anak sulung-di tengah kesibukkannya bekerja untuk membiayai kehidupan keluarga dan pendidikan ketujuh adiknya-dengan kesabaran dan ketekunannya, dia berhasil mencapai impiannya satu persatu melalui prinsip ‘semua akan indah pada waktunya’. This is a very long story yang terbagi dalam 4 bagian. Tapi percayalah, kisah Erwin sangat inspiratif dan menambah motivasi bagi Anda yang sedang mengejar cita-cita.

Bagian 1: Andai dulu tidak ada yang mau nyekolahin..

Aku tidak pernah berhenti bersyukur atas fakta bahwa Tuhan sudah memakai tangan pamanku (sebagai orang Batak aku panggil beliau Bapatua, suami dari Kakak Ibuku) untuk membantu aku meneruskan sekolah dan pada akhirnya bisa menyekolahkan adik-adikku juga.

Nama beliau selalu aku ingat dengan penuh hormat dan terima kasih, Daniel Situngkir. Ya, beliau ini yang berinisiatif menyekolahkan aku saat memasuki jenjang perkuliahan hingga lulus. Inisiatif yang tidak mungkin dilakukan tanpa landasan kasih. Saudara-saudaraku dari pihak Ibu banyak yang jauh lebih kaya, tapi tidak ada yang punya inisiatif seperti yang dilakukan Bapatua. Terhadap keadaan keluarga kami yang sering ‘kembang kempis’ dan tidak akan mampu menyekolahkan anak ke jenjang kuliah, mereka semua cenderung bersikap menyalahkan… menyalahkan kenapa Ibuku menikah terlalu cepat (melangkahi semua Kakak2 dan Abang2nya, padahal Ibuku anak bungsu), menyalahkan kenapa Bapakku tidak punya pekerjaan tetap, menyalahkan kenapa punya banyak anak (kami delapan bersaudara dan aku adalah anak sulung) dan sebagainya. Aku juga tidak bisa berharap banyak kepada saudara-saudara dari pihak Bapakku, keadaan mereka juga tidak kaya-kaya amat dan mungkin sulit buat menyisihkan uang untuk membayari kuliahku.

Tetapi Bapatua Situngkir berbeda dari mereka semua, begitupula istrinya, Kakak Ibuku (Inangtua) juga sama besar cinta kasihnya kepada kami. Beliau percaya bahwa pendidikan adalah modal terbaik untuk mengentaskan kemiskinan. Apalagi beliau melihat bahwa aku punya semangat dan kemampuan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Dari SD sampai SMA, gelar juara pertama bahkan juara umum hampir tidak pernah lepas dari tanganku. “Si Erwin ada kemampuan dan kemauan, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan,” begitu kata Bapatua/Inangtua sebagai pembelaan diri saat saudara2 Ibuku yang lainnya menentang keputusan mereka buat menyekolahkanku.

Begitu lulus SMA, Bapatua dan Inangtua segera menyuruh aku ke Surabaya untuk mengikuti UMPTN di sana. Waktu itu mereka memang sedang berdomisili di Surabaya. Dengan menumpang bis ALS, aku (ditemani Mama dan dua adikku yang paling kecil) pergi ke Jakarta dan langsung naik kereta api menuju Surabaya. Sesampainya di Surabaya, aku buru-buru mengisi formulir pendaftaran UMPTN dan beberapa minggu kemudian aku ikut UMPTN di Surabaya.

Tidak ada yang paling membahagiakan buatku ketika di suatu pagi subuh di hari pengumuman hasil UMPTN, aku membuka koran pagi dan melihat namaku terpampang lulus masuk Teknik Kimia ITB. Semuanya buatku seperti mukjizat, dengan kondisi yang tidak ikut bimbingan atau intensive, dengan kondisi tembak langsung dari Pematang Siantar untuk ujian di ‘kandang’ orang, aku bisa lulus ke perguruan tinggi yang sudah aku idam-idamkan bahkan sejak masih kelas 3 SD. Aku masih ingat bahwa pagi itu aku, Bapatua dan Inangtua sampai loncat-loncat saking girangnya. Mereka berdua juga sangat bahagia buatku.

Dari sejak berangkat menuju Bandung, pendaftaran kuliah, uang pangkal, uang P4, biaya kost, dan biaya-biaya selanjutnya buat perkuliahan dan hidupku di Bandung, Bapatua Situngkir yang menanggung semuanya. Bahkan hingga biaya wisudaku saat lulus, semuanya ditanggung beliau. Tidak pernah sekalipun beliau mundur dari komitmen-nya untuk menyekolahkan aku. Semuanya tanpa pamrih, pesan beliau hanya satu yaitu supaya kelak sesudah aku lulus dan bekerja, aku harus bisa menyekolahkan adik-adikku yang tujuh orang itu.

Aku terkadang sering berandai-andai tentang apa yang akan terjadi jika saja dulu tidak ada orang sebaik beliau yang mau menyekolahkanku ke jenjang perguruan tinggi. Jika tidak kuliah, setamat SMA sudah pasti aku harus cari kerja. Dengan ijazah SMA, pekerjaan seperti apa yang bisa aku dapatkan di kota seperti Pematang Siantar. Jangan-jangan aku akan berakhir menjadi satpam, supir Mopen (ini angkot ala Siantar), tukang kereta sorong, atau tukang becak Siantar seperti beberapa orang yang kukenal yang kebetulan tidak seberuntung aku punya orang seperti Bapatua Situngkir. Dengan kondisi seperti itu, tidak mungkin aku sanggup menyekolahkan adik2ku dan mungkin saja mereka yang perempuan langsung dinikahkan sesudah tamat SMA, dan yang laki-laki bisa saja jadi putus sekolah. Bayangkan saja di jaman sekarang, bagaimana satu keluarga tanpa penghasilan tetap dan anak sulung yang cuma tamat SMA, akan bisa hidup dan menyekolahkan tujuh anak lainnya sekaligus??

Tetapi apa yang diberikan Bapatua Situngkir dan Inangtua benar-benar mengubah garis hidup kami. Dengan modal pendidikan yang diberikannya, aku bisa mendapatkan pekerjaan dan pelan-pelan bisa menyekolahkan semua adik-adikku. Adikku yang nomer 2 (perempuan) sekarang sudah jadi lawyer (lulus dari Fakultas Hukum UGM), yang nomer 3 (perempuan, lulus dari TIN IPB) sudah jadi Supervisor di salah satu perusahaan pembiayaan nasional, yang nomer 4 (laki-laki, lulus dari FTI Atmadjaya Yogya) sudah bekerja jadi Engineer di Batam. Sisanya masih ada yang kuliah di USU (nomer 5), mau UMPTN tahun ini (nomer 6), SMA kelas 2 (nomer 7) dan yang mau masuk SMA tahun ini (nomer 8).

Dengan membiayai pendidikanku, Bapatua Situngkir telah membantu kami menuju kehidupan yang lebih baik. Hidup dan pencapaian kami sekarang, bisa jadi tidak akan pernah terjadi jika dulu beliau tidak perduli akan pendidikanku. Melalui kepedulian beliau, kami semua sudah dientaskan dari kemungkinan masa depan yang suram dan jebakan kemiskinan.

Dan inilah aku hari ini, menuliskan kisah ini dengan penuh rasa syukur bahwa alih-alih menjadi anak-anak putus sekolah dan madesu (masa depan suram), aku dan orang-orang yang aku kasihi bisa hidup seperti sekarang dan memiliki masa depan yang lebih baik. Meskipun masih ada empat orang lagi yang masih bersekolah dan Bapak sudah tiada sejak dua tahun lalu, kami berempat optimis menatap masa depan. Kami percaya kami akan sanggup menyekolahkan mereka semua sekaligus membahagiakan Mamaku….

<Teriring ucapan terima kasih buat keluarga Bapatua Daniel Situngkir
dan Inangtua br. Pandiangan>


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: