Posted by: gpia | October 9, 2008

Liputan GPIA Family Bible Camp 2008

Libur t’lah tiba… libur t’lah tiba… Hatiku gembira….

Itulah senandung yang timbul dalam hati saat membayangkan liburan lebaran. Apalagi libur kali ini akan diisi dengan GPIA Family Bible Camp yang format acara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, walaupun tempat yang digunakan adalah Kinasih yang telah 16 kali digunakan sebagai tempat retreat gereja kita (sejak tahun 1989). Jadi tahun ini adalah kali yang ke-17. Wah… lumayan juga yah…! Dan peserta untuk tahun ini sekitar 620 orang. Fantastik!

Hari pertama
Selasa, 30 September 2008

Dengan diantar oleh 5 bis yang menanti di GPIA Taman Duta Mas, peserta tiba pukul 1 siang di lokasi Kinasih. Setelah pendaftaran ulang dan menerima kunci kamar, peserta mulai menyebar mencari kamar masing-masing tetapi ada pula anak-anak muda yang langsung bermain bola, karena ibadah baru akan dimulai pada pukul 4 sore.

Diawali dengan snack bersama di Balai Sidang Kinasih (BSK), maka ibadah pembukaan diawali dengan pemutaran video seputar acara-acara retreat ini. (semacam iklan gitu lho… dan lucu-lucu). Dan Sdr. Joko membuka ibadah dengan puji-pujian yang penuh semangat dan megah. Ibu Gembala, Pdt. Hanna Budhi, meresmikan acara GPIA Family Bible Camp ini dengan pemukul gong disambut tepuk tangan seluruh peserta sambil bersyukur kepada Tuhan Yesus atas penyertaan dan perkenan-Nya. Pdt. Johan Lumoindong sebagai pembicara pertama dalam retreat ini memberikan nasihat-nasihat firman Tuhan agar kita sebagai orang Kristen harus mau berubah dan diubahkan oleh Tuhan.

Setelah selesai makan malam, ibadah disambung dengan acara Praise & Worship yang dipimpin oleh Ny. Irnah. Sungguh malam ini adalah malam yang indah dimana pujian dan penyembahan dinaikan dengan hikmat sehingga seluruh peserta larut dalam pengagungan kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Pdt. Johan Lumoidong menyambung khotbahnya dari Yoh. 21:16-17 bahwa untuk berubah kita harus bertobat, berkompetisi untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, terlebih-lebih dalam menyatakan kasih kita kepada Dia (seperti Petrus). Malam semakin larut, namun tampaknya para peserta masih enggan untuk segera tidur. Ada yang berkumpul dengan keluarganya, atau ngobrol dengan peserta yang lain. Tapi yang pasti terasa sekali persahabatan yang mulai tumbuh di antara para peserta, karena ternyata ada beberapa peserta yang bukan jemaat GPIA, namun selalu ikut dalam retreat yang diadakan oleh gereja kita.

Hari Kedua
Rabu, 1 Oktober 2008

Hari ini dimulai dengan doa pagi yang dipimpin oleh Sdr. Kollis Napitupulu, membawa peserta masuk dalam hadirat Tuhan, mencari wajah-Nya dan bersyukur atas hari yang telah diberikan-Nya. Pdm. Cornelius Tomasowa memberikan wejangan firman Tuhan agar peserta yang hadir untuk bertekad memberikan buah yang terbaik bagi Tuhan.

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh peserta, karena inilah saatnya acara outbound, yang masih asing bagi sebagian besar peserta. Setelah berkumpul di BSK, peserta bersama-sama menuju lapangan outbound yang berjarakan ± 200 meter. Di lapangan yang luas ini, peserta membuat lingkarang besar dan mulai mengikuti instruksi dari tim Kinasih Outbound yang berjumlah 6 orang.

Setelah bermain bersama, peserta kemudian dibagi dalam 16 kelompok yang akan memainkan 4 pertandingan. Karena jumlah peserta yang banyak maka setiap pertandingan diikuti oleh 4 kelompok secara berganting.

Pertandingan yang dilombakan adalah injit-injit semut, hula-hula hop, spiderweb, dan memasukan bola dengan menyusun bambu. Seru dan kocak sekali permainan ini. Namun membutuhkan kerjasama, dan kekompakkan dari masing-masing peserta. Yang besar harus menggendong yang kecil, dan saling berpegangan tangan untuk berdiri di selembar kotak yang kecil namun harus dimuati oleh seluruh tim. Berpegangan tangan dalam melewatkan hula-hula hop. Saling bekerja sama saat harus melewati spiderweb dan berbaris dengan rapi dan tenang saat mengalirkan bola melalui bambu untuk sampai kepada gol-nya.

Kemudian seluruh peserta digabung menjadi hanya 4 tim untuk bertanding robot A. Sebagian menarik dan sebagian mengulur agar robotnya dapat berjalan sampai ke garis finish. Kemudian seluruh peserta dibagi menjadi hanya 2 tim untuk mengisi air dalam tabung pipa plastik yang tinggi sampai bola di dalamnya keluar. Wah… sampai basah kuyup dibuatnya… namun tidak ada satu tim pun yang berhasil mendapatkan bolanya karena tabung pipa plastik ini bocok di semua tempat sehingga dengan susah payah peserta harus menutupinya dengan jari-jari, dan untuk menuangkan airnya pun harus digendong karena tinggi. Acara ini melelahkan namun juga menyegarkan bagi seluruh peserta.

Setelah istirahat yang panjang, malam harinya ibadah KKR dimulai. Sebagai pembicara, Pdt. Ellia Makarawung menjelaskan penghalang dalam hidup orang Kristen sehingga tidak dapat berbuah, yaitu terluka (Amsal 27:9). Dalam altar call diadakanlah doa bagi mereka yang mau berubah dan berbuah dengan menanggalkan sakit hati, dendam, kepahitan yang ada dalam hati mereka.

Dalam acara api unggun yang akhirnya dapat dilaksanakan walaupun sebelumnya turun hujan, peserta dijamu dengan 1000 sosis dari Frankfuter dalam acara api unggun. Wah.. nikmat deh!

Hari Ketiga,
Kamis, 2 Oktober 2008

Hari ketiga pun dimulai dengan doa pagi yang dipimpin oleh Pdp. Abdon Dutu dan firman Tuhan oleh Pdm. Ricky Watulingas.

Setelah sarapan pagi, peserta berkumpul kembali di BSK untuk mengikuti session IV dan session V yang kembali dibawakan oleh Pdt. Elia, yang memberikan pelajaran mengenai Finishing Well (2 Tim. 4:6-8). Banyak orang yang berhasil dalam hidupnya, namun tidak dapat mengakhiri hidupnya dengan baik. Padahal langkah akhir inilah yang menentukan. Untuk itu ada 6 bahaya yang harus diwaspadai yaitu keuangan, gambar diri, kesombongan, tujuan hidup, keluarga/pernikahan dan kemurnian moral. Oleh sebab itu sebagai anak Tuhan kita harus memiliki cara pandang hidup yang benar, dan selalu ingin diubahkan terus menerus serta memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan dan sesama.

Ibadah session V ditutup dengan perjamuan kudus dan retreat ini pun ditutup dengan pemukulan gong oleh Ibu Gembala, Pdt. Hanna Budhi.

Retreat ini boleh berakhir, namun kita akan melihat buahnya karena kita sudah berubah! Sampai berjumpa di retreat tahun depan. (Hanny Wijaya)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: