Posted by: gpia | August 11, 2008

Mengapa Orang Kristen Melayani?

Menjadi pelayan bukanlah pekerjaan yang paling digemari di dunia. Ada yang melakukannya karena terpaksa, karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Ada yang melakukannya sebagai suatu profesi sehingga mereka menjadi ahli dalam melayani, seperti halnya di Inggris. Tetapi pada umumnya orang dari kebudayaan mana pun, tidak suka melayani orang lain. Namun orang-orang Kristen dipanggil untuk melayani.

Ada tiga alasan yang dikemukakan dalam Alkitab:

Alasan pertama: Kita dipanggil untuk melayani ialah karena kita diciptakan agar dapat mengatur hidup kita untuk kemuliaan Tuhan, “Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku” (Yesaya 43:6,7).

Jika Allah menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya, maka Dia mempunyai hak utama atas hidup kita. Apa pun yang dikatakan orang lain agar kita lakukan dalam hidup kita, memuliakan Allah adalah hal yang paling penting bagi seorang Kristen.

Banyak di antara kita mempunyai macam-macam rencana mengenai apa yang akan kita lakukan bagi Tuhan, dan bagaimana kita akan memuliakan Dia. Rencana yang baik ini sering terbengkalai dan kita menjadi kecewa. Mengapa? Karena kita tidak menyadari bahwa Tuhan lebih memperhatikan bagaimana kita akan memuliakan Dia dalam kehidupan kita daripada apa yang dapat kita kerjakan.

Alasan kedua: Kita dipanggil untuk melayani ialah karena Yesus Kristus telah memilih untuk diri-Nya sendiri peran sebagai pelayan, dan Ia memanggil kita untuk menjadi seperti Dia. Pada mulanya kita diciptakan serupa dengan Dia, tetapi dosa telah mencemarkan keserupaan itu. Dalam penyelamatan yang disediakan-Nya Allah membawa kita kembali kepada rencana-Nya yang semula untuk membuat kita menjadi seperti Kristus, termasuk menjadi seperti Dia dalam pelayanan kita.

Orang-orang Kristen suka berangan-angan untuk makin menjadi seperti Kristus. Memang benar, siapakah yang telah menjalani hidup yang lebih mulia daripada Dia? Kita sering bernyanyi “Ku Mau Seperti Yesus”. Kita mengagumi kesucian-Nya, ketulus-ikhlasan-Nya, dan belas kasihan-Nya. Kita suka akan kelemah-lembutan-Nya dan sifat-sifat lain-Nya yang mulia. Tetapi kesaksian Tuhan Yesus mengenai diri-Nya sendiri tidak menonjolkan sifat-sifat ini. Sebaliknya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk melayani.

“Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Lukas 22:27). Kita tidak dapat mengabaikan saja sifat Tuhan Yesus itu. Jika sikap melayani yang ada pada kita tidak makin bertambah terhadap Allah dan manusia, maka kita tidak makin menjadi seperti Yesus.

Alasan ketiga dan yang paling meyakinkan untuk menjadi pelayan ialah karena kekekalan itu sesuatu yang nyata, penting, dan ada untuk selamanya. “Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap” (2 Petrus 3:10). Dalam segala hal kita harus ingat akan perkara yang kekal. C.S. Lewis pernah menyatakan, “Semua yang tidak kekal selamanya usang.”

Ijazah sarjana Anda, mobil baru Anda, stereo Anda, reputasi Anda, dan pakaian Anda yang bagus-bagus, semuanya itu sebenarnya tidak mempunyai nilai yang kekal jika tidak menambahkan apa-apa kepada penyelamatan manusia. Semua itu, atau apa saja yang serupa dengan itu pada zaman Paulus, dimanfaatkan oleh sang rasul untuk pemberitaan Injil. Dan ia pun menempatkan diri sendiri serta segala keinginan dan perbuatannya untuk kepentingan itu.

“Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, …. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil.” (1Korintus 9:19-20,22-23)

Pada abad ke-19 beberapa penginjil di Guyana Belanda (sekarang disebut Suriname) ditugaskan untuk memperkenalkan Injil kepada penduduk asli sebuah pulau di dekat situ. Sebagian besar penduduk itu menjadi budak di perkebunan-perkebunan besar yang terdapat di pulau itu. Pemilik-pemilik tanah takut akan Injil serta akibatnya, dan mereka tidak memperkenankan para penginjil itu berkhotbah kepada penduduk ataupun berbicara dengan para budak. Mereka hanya memperkenankan para budak itu berbicara dengan budak-budak lainnya. Karena itu, para penginjil itu menjual diri sebagai budak agar mereka dapat menyampaikan Injil kepada orang-orang itu. Dan sebagai budak, dengan bekerja keras dalam keadaan yang sulit di daerah yang panas, mereka berhasil menyampaikan Kabar Keselamatan.

Memang sulit untuk melayani orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak ramah. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa Bapa-Nya selalu baik terhadap mereka yang mementingkan diri sendiri, yang tidak tahu berterima kasih dan yang sombong. Mengapa? Karena kekekalan itu sangat nyata. Jika pelayanan dan kebaikan kita terhadap orang-orang semacam itu dapat menjembatani jurang yang menghalang-halangi mereka untuk menerima Kristus, maka hal itu mengobati segala kepedihan hati serta segala pergumulan pikiran yang kita alami.

Howard Hendricks pernah mengatakan, “Jika seorang tidak mempunyai pandangan mengenai kekekalan, ia akan lebih memperhatikan apa yang diperbuat orang lain untuk dirinya, daripada apa yang diperbuatnya sendiri untuk Kristus.” Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang kita alami jika kita mencoba melayani orang-orang yang tidak kita sukai. Kita akan terlalu mementingkan diri sendiri — perasaan dan hak-hak kita — sehingga kita lupa akan kenyataan bahwa Allah memperhatikan hal-hal itu.

Bagaimana Saya Dapat Memupuk Cara Hidup Demikian?

Masalah utama yang kita hadapi untuk dapat menjalani hidup menurut kehendak Tuhan ialah karena kita orang-orang berdosa. Pada dasarnya kita ini makhluk yang hanya mementingkan diri sendiri. Kita terjebak dalam keasyikan dunia yang memikirkan siapakah yang terbesar dan bagaimanakah caranya menaiki jenjang ke arah keberhasilan. Jika kita mendengar sedikit gunjingan, maka kita langsung saja berpikir, bagaimana hal itu akan mempengaruhi saya?

Jalan keluar yang termudah dari masalah tersebut ialah menyerahkan diri dan tunduk kepada Yesus Kristus. Kita harus menyerahkan diri kepada Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya, meski kita mengalami tekanan-tekanan dari berbagai pihak sekalipun. Di sinilah kemurnian pelayanan itu akan tampak. Kita semua dipanggil agar memberikan jawaban, dan banyak yang menjawab, “Saya mau,” tetapi secara relatif hanya sedikit saja yang benar-benar menyerahkan diri. Penyerahan diri adalah suatu tindakan kemauan yang harus diulang setiap kali ada kesempatan untuk melayani. Jika penyerahan itu sudah menjadi ciri yang nyata dan sikap hidup kita, pelayanan kita pun akan tumbuh secara nyata.

Masalah kedua ialah kita harus menghadapi kehidupan, orang-orang, lingkungan, dan keadaan dengan sikap, “Saya akan melayani seseorang di sini!” Sungguh mengherankan bagaimana sikap semacam ini dapat melepaskan kita dari ketakutan-ketakutan kita. Banyak di antara kita yang merasa sangat tegang; kita tidak yakin akan berhasil; kita tidak yakin akan diterima; kita berprasangka bahwa mungkin kita akan menyinggung perasaan seseorang; kita takut akan ini, akan itu, dan akan hal-hal kecil lainnya. Tetapi, bila seseorang sibuk memikirkan bagaimana melayani orang lain, maka ia akan terlepas dari banyak kekuatiran. Oleh karena itu, ambillah inisiatif dan layanilah seseorang.

Dalam Kitab-Kitab Injil kita tidak membaca bahwa Yesus mencari semua orang sakit, semua yang lapar, semua yang terganggu jiwanya. Sebetulnya Ia mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan mereka semua. Tetapi Ia hanya melayani kebutuhan mereka yang dijumpai-Nya dalam perjalanan-Nya. Ia melayani keperluan-keperluan mereka yang dipertemukan dengan Dia oleh Bapa-Nya.

Mengambil inisiatif tidak berarti bahwa Anda harus membebani diri dengan semua kebutuhan yang diperlukan dunia, tetapi Anda harus melangkah maju dan melayani kebutuhan mereka yang ada di sekeliling Anda. Jika Anda kecewa karena merasa tidak mampu melayani, maka tidak jarang hal itu disebabkan karena Anda mencoba melakukan terlalu banyak. Barangkali Anda mencoba menyembuhkan sekelompok orang, padahal Anda seharusnya memusatkan diri pada satu orang.
Persempitlah lapangan kegiatan Anda, bukan untuk mengurangi pelayanan, melainkan untuk memusatkan perhatian pada apa yang dapat Anda lakukan secara efektif bagi mereka yang berada di sekitar Anda.

Sebelum Yesus makan jamuan Paskah terakhir bersama murid-murid-Nya, Ia mengambil air dan mencuci kaki murid-murid-Nya. Tuhan semesta alam merendahkan diri untuk mencuci kaki yang kotor dari ke-duabelas orang itu! Lalu ia berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yohanes 13:12-15)

Yesus sangat memperhatikan kepentingan orang lain. Dan Ia mengharapkan agar kita juga berbuat demikian. Jika kita bersungguh-sungguh ingin menjadi seperti Dia dan membawa berita Injil kepada dunia yang belum percaya, kita harus mengikuti jejak-Nya.

Rasul Paulus melakukan hal itu. Ia mengatakan, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2Korintus 4:5). Anda dan saya mendapat keistimewaan untuk secara sukarela menjadi pelayan-pelayan orang lain bagi kemuliaan Yesus dan keuntungannya kekal dan berarti.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Dipanggil untuk Melayani
Judul Asli Artikel : Mengapa Orang Harus Hidup Seperti Itu?
Penulis : Ray Hoo
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 19 – 28
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sumber :
e-JEMMI edisi No. 39 Vol. 8/2005 (http://www.sabda.org/publikasi/misi/2005/45/)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: