Posted by: gpia | July 28, 2008

Perspektif Pelayanan

Pelayanan: Bagaimana Anda mendefinisikannya?

Tiap orang mengartikan kata itu berbeda-beda, dan begitu banyak definisi karena begitu banyak pula bidang pelayanan. Jika Anda menjadi Kristen pada usia muda dan selanjutnya mulai menghadiri kebaktian di sebuah gereja kecil di desa, maka konsep Anda tentang pelayanan akan dibentuk oleh pengalaman itu. Tapi jika mungkin Anda menjadi Kristen ketika telah dewasa atas usaha dari sebuah organisasi pelayanan penginjilan yang tidak terikat satu denominasi gereja. Pengalaman pertama Anda tentang pelayanan mungkin terjadi di dalam konteks sebuah kegiatan pengajaran Alkitab di rumah yang diajar oleh seorang pemimpin yang tidak mewakili sebuah gereja.

Dua contoh di atas menggambarkan beberapa dari banyak perbedaan yang ada pada pelayanan. Namun bukan berarti pelayanan yang satu benar dan yang lain tidak. Perbedaan itu secara sederhana telah menunjukkan banyaknya unsur-unsur yang berbeda yang ada pada sebuah pengalaman seorang terhadap pelayanan yang begitu luas itu.

Banyak orang mengalami pertobatan lewat pelayanan gereja lokal sehingga karenanya memiliki pandangan tentang metode pelayanan yang sama dengan gereja. Meski demikian, bahkan dalam lingkup ini pun, masih begitu banyak jenis pelayanan yang berbeda-beda tergantung pada ukuran gereja, denominasi, tradisi gereja, dan gaya kepemimpinan gembala sidang. Tiap-tiap unsur itu akan mempengaruhi bagaimana hal yang disebut pelayanan itu dikerjakan. Tradisi, baik yang lama atau baru, sangat mempengaruhi perspektif orang tentang pelayanan.

Ada banyak orang lain yang datang pada Kristus lewat kegiatan penginjilan misionaris dari luar negeri. Orang-orang ini melihat bahwa cara pelayanan yang dilakukan di negara mereka juga menunjukkan bagaimana seharusnya pelayanan dilakukan di seluruh dunia. Dan ketika mereka mengunjungi bagian dunia yang lain serta melihat perbedaan-perbedaan perspektif mengenai pelayanan, mereka pun mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: “Apakah pelayanan itu? Jawabannya, bagaimana pun tidak sesederhana seperti halnya ada begitu banyak konsep-konsep umum yang kurang tepat mengenai bukti kepelayanan dalam gereja sekarang ini.

Konsep Yang Salah Tentang Pelayanan
Sebelum mencoba menjawab pertanyaan di atas, kita akan terlebih dulu mengenali mana yang pelayanan dan mana yang bukan. Mengetahui hal ini akan membantu kita dalam menghindari beberapa konsep umum yang salah mengenai pelayanan dan menolong kita menentukan mana yang benar.

1. Pelayanan Bukanlah Sebuah Badan Sosial
Banyak gereja terlibat dalam kegiatan memberi bantuan kebutuhan masyarakat kita, (seperti pelayanan gelandangan, para janda, dan berbagai kelompok lain). Keterlibatan mereka di kegiatan-kegiatan itu sesuai dengan ajaran Alkitab tentang memberi pakaian bagi mereka yang telanjang, memberi makan mereka yang lapar, dan mengunjungi yang terpenjara, janda-janda, dan anak-anak yatim (Yakobus 1:27; Matius 25:35-36). Kesulitan timbul saat program-program ini telah menjadi yang paling utama sehingga membuat gereja berhenti memenuhi tuntutan tugas utama mereka untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang serta pendidikan moral. Ada beberapa fungsi dari Alkitab yang berbeda-beda, yang hanya bisa dilakukan oleh gereja. Di sini kita harus menyeimbangkan keduanya. Ketika gereja berhenti berfungsi sebagai gereja, karena program-program sosial telah mengaburkan visinya yang lebih dari sekedar badan sosial.

2. Gereja Bukanlah Sebuah Institusi Pendidikan
Ini adalah kesalahan konsepsi yang umum terjadi pada banyak murid sekolah Alkitab baru. Mereka datang ke kampus dan menikmati pengajaran Alkitab yang di ajar oleh seorang profesor terkenal; mereka mengalami jam-jam ibadah harian bersama seorang pembicara yang dinamis. Pengalaman di sekolah itu tentunya seringkali mempengaruhi mereka untuk mempraktekkan hal yang sama di gereja.
Namun gereja, seperti yang Kristus inginkan, hendaknya menjadi lebih dari sebuah tempat pendidikan Alkitab. Ada banyak komponen dari gereja Perjanjian Baru yang tidak dapat dilakukan oleh sekolah Alkitab. Oleh karena itu, kita seharusnya tidak melihat hal tersebut sebagai pengganti pelayanan gereja.

3. Gereja Bukanlah Sebuah Program
Banyak gereja memiliki bermacam program yang dibuat untuk melayani kebutuhan komunitasnya. Beberapa gembala pada hari-hari ini mengukur efektivitas pelayanan mereka berdasarkan berapa banyak orang yang dapat mereka libatkan dalam program gereja mereka. Jika tidak hati-hati, gembala tersebut dapat jatuh ke dalam godaan untuk lebih mempromosikan program gereja mereka daripada mengenalkan Yesus, yang selanjutnya akan membawa ke asumsi yang salah bahwa pelayanan adalah sekedar menerapkan program baru setiap beberapa bulan. Namun pelayanan yang sejati adalah lebih dari sebuah program.

4. Pelayanan bukanlah sebuah bangunan
Bagi jemaat muda, sangat mudah untuk menyamakan pelayanan gereja dengan bangunan. Mereka berkata pada kawan mereka, “Aku akan bertemu denganmu di gereja sepulang sekolah nanti.” Pernyataan itu memperlihatkan sebuah kesalahan konsep yang umum terjadi di antara orang Kristen yang seringkali membatasi pelayanan gereja mereka dalam batasan sebuah bangunan. Gereja, seperti yang disebut dalam Perjanjian Baru, tidak hanya terbatas pada sebuah gedung atau lokasi geografis. Gereja Perjanjian Baru berbicara tentang orang-orang yang percaya pada Kristus yang memilih untuk berkumpul bersama. Mereka tetap disebut gereja di mana pun mereka bertemu, di sebuah gedung, taman, atau di pinggir danau. Sebuah bangunan bukanlah persyaratan penting untuk sebuah pelayanan gereja dalam memenuhi Amanat Agung.
Bangunan-bangunan memang dapat memberikan pengaruh dalam hal efektivitas pelayanan komunitas lokal. Bahayanya adalah ketika ada yang menyamakan bangunan gereja dengan pelayanan gereja.

5. Gereja Bukanlah Sebuah Organisasi
Kesalahan konsep tentang pelayanan yang terakhir ini juga seringkali dialami orang Kristen. Hal ini sangat sering terjadi pada orang Kristen yang beribadah di gereja yang besar. Kekaguman muncul akan gaya dan cara-cara pengorganisasian gereja yang besar itu. Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi pelayan di lingkungan kita, dan tidak ada yang salah dengan semua prinsip administrasi gereja.
Bahaya muncul ketika orang Kristen melihat pelayanan gereja sebagai sama dengan lingkup dan arti sebuah organisasi. Mereka melihat bahwa keduanya memiliki anggota, dana, staf, tata tertib pekerja, pembagian kerja, struktur organisasi, tujuan, titik berat dan sebagainya. Jika tidak hati-hati, tata cara dan prosedur tersebut dapat membuat orang Kristen melihat bahwa gereja tidaklah lebih dari sekedar organisasi yang bertitik berat pada kekristenan. Namun gereja bukanlah sebuah organisasi. Berdasarkan Alkitab, gereja adalah sebuah organisme (kesatuan hidup). Gereja adalah tubuh Kristus yang berinkarnasi di dunia saat ini.

Sejarah Awal Pelayanan
Secara teologis dikatakan, gereja bermula dari dalam pikiran Tuhan. Alkitab berkata bahwa sebelum dosa masuk ke dunia, Tuhan telah merencanakan keselamatan bagi manusia (Ef 3:9-11; 1Pet 1:20). Tuhan telah mempunyai rencana bahwa Kristus akan lahir ke dunia sebagai manusia, berinkarnasi untuk tujuan penebusan. Dia adalah anak domba yang dipilih Allah untuk menghapuskan dosa manusia di dunia (Yoh 1:29) dan memulihkan hubungan manusia dengan Bapanya di surga kembali. Tuhan telah memerintahkan supaya Kristus menjadi korban penebusan bagi manusia lewat kematian-Nya di kayu salib.
Dilihat dari segi sejarah, gereja dimulai pada Hari Pentakosta. Perayaan Pentakosta adalah sebuah festival hari raya panen orang Yahudi yang diadakan 50 hari setelah perayaan Paskah Yahudi. Orang-orang berdatangan ke Yerusalem setelah mereka memetik hasil panen mereka dan bersemangat untuk merayakan panen mereka yang berlimpah. Itu juga merupakan waktu bagi mereka untuk merenungkan asal mula kepercayaan mereka sambil mengucap syukur pada Tuhan yang telah memberikan mereka 10 Perintah di gunung Sinai. Pada konteks inilah kitab Kisah Rasul mencatat kelahiran gereja: “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya”(Kis 2:1-4).
Pedagang dari berbagai belahan dunia yang datang ke Yerusalem untuk menghadiri festival itu menjadi begitu takjub melihat fenomena yang sedang terjadi ini. Petrus lalu berdiri di tengah-tengah keramaian ini dan mulai berkhotbah yang membuat sekitar 3000 orang bertobat. Gereja telah bangkit. Keanggotaan awal mereka terdiri lebih dari 3120 orang (bdk Kis 1:15, 2:41)(t/ar).

Sumber :
e-JEMMI edisi No. 39 Vol. 8/2005 (http://www.sabda.org/publikasi/misi/2005/39/)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: